Toilet3 min read

1-1242736074LgREPsykopainted

Mulanya cuma keran wastafel yang terbuka sendiri. Air mengucur deras tiba-tiba; seorang karyawan yang sedang mengeringkan tangan melompat kaget. Ia segera keluar dari toilet kantor dengan tubuh merinding dan lutut lemas. Sambil setengah berlari, ia masuk kembali ke dalam ruang kerja, kembali bersama kami yang sedang bekerja lembur mengejar tenggat.

Ketika ia menceritakan pengalamannya dengan terbata-bata, aku tak menganggap serius. Ketakutan dalam diri seseorang bisa membuat segala hal di dalam toilet jadi menakutkan, misalnya pengering tangan yang menyala sendiri karena tersenggol lengan, pintu kamar kecil yang sulit terbuka karena berkarat, atau bayangan diri sendiri yang memantul di cermin saat cahaya lampu sedang redup.

Namun bukan hanya itu satu-satunya kejadian. Dua hari berikutnya, aku dan seorang rekan datang ke kantor lebih pagi dari biasanya karena harus mengunjungi klien yang cukup jauh. Kantor masih sepi, hanya OB dan satpam yang sudah hadir. Setelah mengambil bahan presentasi dari meja kerjanya, rekanku itu menghabiskan segelas kopi hitam untuk mengusir kantuk.

Kafein ternyata hanya menjadi obat pencahar bagi perutnya. Aku berdiri di lobi sambil memperhatikan jam tangan, menunggu ia yang buang air terlalu lama. Ketika akhirnya ia kembali, wajahnya terlihat pucat, napasnya berat.

Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa saat masuk ke kamar kecil tadi, sebuah tisu gulung masih tergantung rapi di dinding. Namun setelah selesai buang air besar, ia tidak melihat gulungan tisu itu lagi. Ia menghabiskan waktu cukup lama untuk mengendap-endap ke WC sebelah dan mengambil tisu lain. Ia merasa bahwa selama di dalam toilet ada sepasang mata yang terus mengawasinya, mengikuti gerak-geriknya, dan mempermainkannya. Pada akhirnya, bukan kafeinlah yang berhasil menghilangkan kantuknya pagi itu.

Aku tidak tahu apakah kafein bisa menimbulkan halusinasi, tapi ketika aku mengalami kejadian ini pagi tadi, aku sama sekali belum menyentuh cangkir kopiku.

Di toilet kantor kami, ada dua kamar kecil yang dipasang berjajar. Kedua tempat buang air itu hanya disekat oleh papan yang terbuka di bagian bawahnya (kira-kira setinggi betis) dan bagian atasnya (kira-kira satu hasta dari atap). Lantai toilet juga dilapisi keramik yang memantulkan cahaya dengan baik sehingga bila kita duduk di WC dan melihat ke samping bawah, kita dapat melihat pantulan kaki orang yang duduk di WC sebelah.

Toilet kantor masih kosong, bahkan cleaning service pun belum sempat masuk. Aku duduk di atas WC yang terasa agak dingin itu. Lewat pantulan di lantai, aku mengetahui seseorang sedang duduk di WC sebelah. Kaki telanjangnya terlihat samar, sepertinya ia melepas sepatu dan kaus kakinya.

Waktu berlalu. Orang di sebelahku itu benar-benar hening. Tak ada suara kentut atau suara vulgar lainnya. Padahal, tentu saja membuat suara-suara semacam itu di dalam toilet merupakan hal yang wajar. Kunyalakan ponsel yang sejak tadi sudah kugenggam, lalu kubuka situs berita dan jejaring sosial.

Beberapa menit kemudian ketika pikiranku sedang larut, ruangan menjadi redup. Spontan, aku menoleh ke atas, berniat mencari tahu apa yang terjadi dengan lampu toilet. Namun hal yang kulihat justru membuat jantungku berhenti sesaat. Aku melihat  wajah. Wajah itu melongok lewat celah sekat bagian atas, menatap ke bawah, ke arahku yang tanpa celana. Matanya terlihat bulat dan sepenuhnya hitam, sementara senyumnya yang lebar memperlihatkan gigi-gigi runcing seperti ikan piranha.

Napasku tertahan di tenggorokan. Kutundukkan kepalaku saat itu juga. Dagu menempel ke leher, mata menatap ke lantai. Bayangan kepala itu masih terpantul pada keramik, sosok itu masih menatapku tanpa suara. Jantungku berdebar kencang dan perutku sakit. Sisa-sisa pencernaan yang kupikir sudah habis kembali keluar, baik besar maupun kecil. Saat kugeser sedikit pandangan mataku, aku melihat pantulan kaki itu masih di sana, sepertinya ia masih duduk di WC. Dalam keheningan yang berlalu selama beberapa menit itu tubuhku membatu. Aku mulai membayangkan setinggi apa ia, atau sepanjang apa lehernya.

Ruangan kembali terang, lalu terdengar suara bilasan air dari WC sebelah. Kepala itu lenyap, bayangan kaki itu juga lenyap. Aku membersihkan diri dengan terburu-buru, lalu segera kembali ke ruang kerja. Kugumamkan kepada diriku sendiri: ketakutan dalam diri seseorang bisa membuat segala hal di dalam toilet jadi menakutkan. Mungkin semua itu hanya ilusi pengelihatan, tapi sejak saat itu, setiap kali terpaksa buang air besar di toilet kantor, aku selalu menatap lurus ke depan.

 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).