Tamu Terakhir

18+

Organ tunggal sudah tak terdengar sejak satu jam yang lalu dan tamu-tamu mulai surut. Ningrum menahan diri untuk tak menggosok matanya yang terasa perih, lalu melirik ke arah Dimas, suaminya, yang juga tampak tak kalah lelah. Di halaman rumahnya, orang-orang sudah mulai membereskan kursi, sementara hidangan resepsi sudah hampir habis. Tak ada lagi yang datang dari arah gerbang kecuali angin dingin dan nyamuk-nyamuk.

“Nggak akan ada tamu lagi, kan?” gerutu Dimas.

“Mungkin masih,” ucap Ningrum pelan, seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

“Ah, kalau pun ada, paling juga besok. Sekarang kayanya kita bisa istirahat.”

Sepasang suami istri yang baru selesai makan tampak langsung berpamitan ketika menyadari bahwa kursi-kursi mulai diangkat. Merekalah tamu terakhir di acara pernikahan itu. Ningrum menghela napas sambil Continue reading Tamu Terakhir

New High Score!

Sejak kubelikan X-Box dan Kinect sebagai kado ulang tahunnya, adikku semakin hobi bermain video game. Ia melompat-lompat dan menari-nari di depan televisi setiap pulang sekolah. Kupikir ini adalah ide bagus. Selama ini ia selalu bermain game dengan duduk di depan komputer atau tiduran di atas kasur sambil memegang ponsel. Ia jadi jarang bergerak, sementara aku khawatir berat badannya yang semakin bertambah akan membuat tubuhnya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, setidaknya peredaran darahnya menjadi lebih lancar, ia juga jadi tampak lebih bersemangat.

Kadang-kadang, aku bermain dengannya pada hari libur atau ketika aku pulang kerja lebih awal. Permainan yang sedang ia gandrungi adalah sebuah platform game yang mengharuskan pemain melompat-lompat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adiktif. Musiknya menyenangkan, sistem skor yang digunakan juga membuat kami berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain. Aku pun menyukainya dan nyaris ketagihan. Namun lama kelamaan aku sadar, adikku sudah mulai keluar batas. Kadang ia bermain hingga larut malam, bahkan pada pagi hari ia menyempatkan diri untuk bermain sebelum sarapan. Aku tak bisa membiarkannya melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, sebab sejak kecil ia memiliki kondisi jantung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan berat hati, aku membuat peraturan. Ia hanya boleh bermain pada hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia harus belajar atau melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu melelahkan. Aku berusaha tegas. Sejak orang tua kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab untuk menjaganya.

Kukira ia benar-benar menurut. Sejak kubuat peraturan itu, aku memang tak pernah lagi melihat ia melompat-lompat di depan televisi setelah pulang sekolah. Namun adikku itu tak hanya lemah secara fisik, ia juga bebal dan kekanak-kanakan, bahkan kurasa ia agak terbelakang secara mental.

Suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena harus buang air kecil. Ketika hendak kembali ke dalam kamar, aku menyadari ada cahaya-cahaya yang tidak biasa dari ruang tengah. Aku memeriksa ruangan itu dan mendapati adikku sedang bermain video game diam-diam dengan lampu ruangan yang dimatikan dan suara yang dikecilkan. Aku memarahinya habis-habisan. Kupaksa ia mematikan televisi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Rupanya ia sangat penasaran ingin memecahkan high score yang kucetak minggu lalu. Alasan yang kekanak-kanakan sekali.

Sayangnya, setelah kejadian itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyembunyikan X-Box itu dan menguncinya di dalam lemari. Namun aku malah membiarkannya di tempat semula, entah karena malas atau terlalu percaya pada janji adikku. Hingga pada suatu malam, aku menyesali kelalaianku itu.

Saat itu aku harus kerja lembur hingga pukul sebelas malam. Aku sudah memesankan makanan untuk adikku lewat delivery service dan berpesan agar ia segera tidur setelah mengerjakan PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menyadari bahwa televisi dan X-box sedang menyala di ruang tengah. Ia mengulanginya lagi. Namun kali ini adikku tidak sedang melompat-lompat, ia sudah terkapar di atas lantai, tak bergerak sedikit pun. Jantungnya sudah tidak berdetak. Aku terlambat.

Aku dirundung kesedihan sejak kejadian itu. Aku merasa gagal mengemban amanat kedua orangtuaku. Selama hampir dua minggu lamanya, aku tak bisa menonton televisi di ruang tengah karena hal itu hanya akan membuatku depresi. Hingga pada suatu sore di akhir pekan, aku memutuskan untuk bangkit dan menghadapi kesedihanku sendiri. Aku tak boleh berlarut-larut. Kunyalakan X-Box dan televisi, lalu kucoba memainkan game yang dulu dimainkan adikku. Hanya dengan begitulah aku bisa pulih dan mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah beberapa kali bermain, aku menyadari bahwa high-score yang kucetak setiap sore selalu saja dipecahkan. Bukan olehku, tapi oleh pemain lain. Mungkinkah aku pernah salah memasukkan nama dan–karena terlalu sedihnya–malah memasukkan nama almarhum adikku sendiri?

Kemarin malam, aku terbangun dari tidur karena udara terasa panas dan aku merasa haus. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari. Aku mengambil minum di dapur dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun saat melintasi ruang tengah, aku melihat cahaya-cahaya berkilatan samar. Kulangkahkan kakiku ke arah ruangan itu. Pikirku, mungkin sebelum tidur aku lupa mematikan televisi, Namun ketika langkahku semakin dekat, aku bisa mendengar suara musik yang sangat familiar di telingaku.

Aku mengintip dari balik dinding. Lututku lemas, sekujur tubuhku merinding. Di sana, di depan televisi dan X-Box, aku dapat melihat siapa yang selama ini selalu memecahkan skorku. Adikku sendiri. Adikku yang sudah meninggal melompat-lompat di tengah ruangan yang gelap. Cahaya warna-warni dari layar televisi menyinari wajahnya yang pucat, matanya yang putih mendelik, dan bibirnya yang hitam tanpa ekspresi. Setiap kali ia mendarat, lalu melompat lagi, aku dapat mendengar suara gesekan samar dari kain kafan yang masih membungkus tubuhnya. Entah berapa kali ia melompat, aku tak menghitungnya, sebab aku jatuh pingsan ketika suara dari game berteriak nyaring, “New high score!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Kehidupan Setelah Mimpi

Ketika seseorang mati di dalam mimpimu, ke manakah ia akan pergi? Apakah ia akan pergi ke kehidupan selanjutnya, ataukah ia akan hilang menguap bersama ingatan dan kesadaranmu? Pertanyaan konyol itu tak pernah terlintas dalam benakku, kecuali setiap kali aku pulang ke kota ini dan menemukan Nurul Romayani sedang duduk di halaman rumahnya, terkadang sambil melamun, terkadang sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang.

Nurul Romayani adalah seorang gadis dari tempat yang sangat jauh. Sejak datang ke sini, ia pernah dibawa ke rumah sakit jiwa meski kemudian melarikan diri. Setelah berkali-kali mencoba Continue reading Kehidupan Setelah Mimpi

Tanggung Jawab Slender Man

Slender man

Dua orang gadis berumur 12 tahun mengajak seorang temannya untuk menginap di rumah mereka. Keesokan harinya mereka bermain petak umpet di sebuah hutan, dan di hutan itulah mereka memegangi dan menusuk temannya sebanyak sembilan belas kali di bagian badan, lengan, dan kaki. Ini bukan dendam atau perampokan, ini adalah sebuah persembahan untuk Slender Man yang mendatangi mimpi salah satu dari mereka. Dengan penuh luka, sang korban berhasil keluar dari hutan dan ditemukan oleh seorang pesepeda yang kebetulan melintas. Untunglah ia selamat. Tusukan-tusukan itu meleset beberapa milimeter dari bagian vital.

Paragraf di atas bukanlah sebuah fanfiction Slender Man dari situs Continue reading Tanggung Jawab Slender Man

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kenapa lemari tua itu selalu memakan rambutnya. Setiap kali ia duduk bersandar di pintu lemari, satu atau dua helai rambutnya selalu terjepit dan putus. Pagi tadi, lemari itu kembali memakan rambutnya sebagai sarapan. Saat itu Widya sedang bersolek sambil duduk membelakangi lemari, dan ketika ia bangkit berdiri, ia menjerit kesakitan karena kepalanya terasa ditarik dengan kuat. Ia menoleh. Dua helai rambut hitam panjangnya menjuntai di sela pintu lemari. Continue reading Lemari Pemakan Rambut

Hari Ini Saya Tidak Mengantuk

Seharian ini mata saya terasa jernih dan mulut saya hampir tidak menguap sama sekali, padahal saya yakin bahwa semalam saya kurang tidur. Sangat kurang. Kira-kira pukul setengah satu dini hari saya baru naik ke tempat tidur karena baru saja selesai mengetik di laptop. Sebelumnya saya sempat memeriksa kolong lemari karena ada seekor tikus kecil yang masuk beberapa jam lalu. Ada perasaan menyesal mengapa saya tidur selarut itu.

Posisi tidur sudah nyaman dan semua lampu di kamar telah padam. Saya berbalik ke kanan, telentang, balik ke kiri, lalu kembali ke kanan, tapi rasa kantuk tak juga muncul. Saya pejamkan mata, lalu mencoba mengosongkan pikiran, menghitung angka, atau membaca doa, tapi sia-sia. Satu jam berlalu, mata saya masih bisa terbuka lebar dan jernih. Padahal saya tidak meminum kopi dua hari belakangan ini karena batuk dan flu yang sedang menyerang. Oh, mungkin karena batuk itu. Mungkin karena tenggorokan saya terasa gatal setiap lima belas menit sekali sehingga saya tidak bisa tidur. Namun yang saya rasakan bukanlah rasa kantuk yang terganggu, melainkan rasa kantuk yang tidak muncul sama sekali.

Saya bergelut dengan waktu dan kebosanan hingga jam dinding menunjukkan pukul setengah empat pagi. Sebentar lagi Subuh. Saya bertanya-tanya, mungkinkah sebenarnya saya sempat tertidur tanpa sadar? Kalau tidak, gawat. Berarti hari ini saya harus pergi ke kantor tanpa tidur sama sekali. Saya membayangkan mata saya akan perih ketika menghadapi monitor komputer dan saya akan ketiduran saat mendengarkan khutbah Jumat. Anehnya, semua itu tak terjadi.

Sekarang sudah pukul lima sore dan mata saya masih terasa jernih. Tidak ada rasa kantuk yang menyerang siang tadi seperti siang-siang biasanya. Tubuh saya terasa lemas, tapi ada energi dan adrenalin yang mendorong kesadaran saya sepanjang hari, entah dari mana, entah untuk apa. Pertanyaan itu muncul lagi: benarkah saya tidak tidur tadi malam?

Lalu saya ingat bahwa semalam saya sempat bermimpi–yang artinya pasti saya sempat tertidur. Mimpi itu, mimpi yang sangat buruk itu, entah terjadi pada jam berapa. Dalam mimpi itu ada darah membanjiri lantai, ada potongan tubuh manusia bergeletakan, dan ada orang-orang yang saya kenal sedang mencincang manusia lain dengan santai seolah semua itu wajar. Dalam mimpi itu saya ketakutan; mata terbelalak lebar, jantung berdetak kencang, dan kaki merangkak sekuat tenaga. Saya tidak ingat apakah dalam mimpi itu saya berhasil melarikan diri atau masih terus berlari, berlari hingga sekarang.

Sekarang matahari mulai merangkak turun dan mata saya masih terasa jernih, terbuka lebar, seperti sedang mewaspadai sesuatu.

Illustration By: WaithamaiCC BY 2.0

Toilet

1-1242736074LgREPsykopainted

Mulanya cuma keran wastafel yang terbuka sendiri. Air mengucur deras tiba-tiba; seorang karyawan yang sedang mengeringkan tangan melompat kaget. Ia segera keluar dari toilet kantor dengan tubuh merinding dan lutut lemas. Sambil setengah berlari, ia masuk kembali ke dalam ruang kerja, kembali bersama kami yang sedang bekerja lembur mengejar tenggat.

Ketika ia menceritakan pengalamannya dengan terbata-bata, aku tak menganggap serius. Ketakutan dalam diri seseorang bisa membuat segala hal di dalam toilet jadi menakutkan, misalnya pengering tangan yang menyala sendiri karena tersenggol lengan, pintu kamar kecil yang sulit terbuka karena berkarat, atau Continue reading Toilet