Resensi: Doa Ibu2 min read

Judul : Doa Ibu
Penulis: Sekar Ayu Asmara
ISBN: 9792248048
Jumlah halaman: 266
Published August 2009 by PT Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis: http://www.goodreads.com/book/show/6652300-doa-ibu

Saya membaca novel ini jauh setelah saya membaca dan menonton Pintu Terlarang, oleh karena itu sulit untuk tidak membandingkan kedua novel tersebut. Sepertinya, Sekar Ayu Asmara memiliki formulanya sendiri dalam membuat cerita misteri/horor psikologis semacam ini. Ia membuat dua buah plot yang berjalan secara paralel dan ditampilkan secara bergantian, membuat pembaca terus mempertanyakan hubungan dari dua cerita itu. Pada bagian awal, inti cerita masih sangat kabur, namun menimbulkan rasa penasaran dengan adanya sebuah konflik besar: orang yang tiba-tiba lenyap begitu saja di pesta pernikahannya. Pembaca yang telah membaca Pintu Terlarang pasti paham bahwa kita tidak bisa begitu saja percaya pada “realitas” yang ditampilkan dalam latar novel Sekar. Ia senang sekali bermain-main dengan delusi, mimpi, dunia surealis, dan psikoanalisis, tidak terkecuali dengan novel ini.

Semakin lama, cerita menjadi semakin absurd dan skala kengeriannya menjadi semakin luas. Hubungan antara kedua plot menjadi semakin jelas, meski pembongkaran misteri hubungan kedua plot itu terasa agak mendadak. Banyak hal-hal yang muncul begitu saja seolah baru ditambahkan secara terburu-buru, juga latar dunia yang banyak menyisakan pertanyaan.

Seperti rapalan kalimat “I love you more” dan “perfection” di Pintu Terlarang, dalam novel ini pun Sekar mengulang berbagai perumpamaan mengenai warna di setiap awal babnya. Awalnya ciri khas itu terasa menarik, sebab bisa menggambarkan profesi seniman/pelukis yang dilakoni para tokohnya, meski agak menyebalkan juga dijejali terminologi nama-nama warna seperti itu. Setelah beberapa bab, mata saya cenderung melewati paragraf tentang warna tersebut karena sudah “kebal”.

Dialog dan narasi dalam novel ini sangat ringan dan mudah dipahami. Sejak awal saya tidak mengharapkan kata-kata yang puitis atau witty karena tampaknya itu memang bukan gaya Sekar. Sayangnya, beberapa komentar masalah sosial dan agama yang disusupkan dalam dialognya terasa agak dipaksakan.

Novel ini mengasyikkan dan bisa membuat saya penasaran. Hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah bagaimana Sekar mempermainkan plot cerita.

http://www.goodreads.com/review/show/420313537

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).