high score

New High Score!4 min read

Sejak kubelikan X-Box dan Kinect sebagai kado ulang tahunnya, adikku semakin hobi bermain video game. Ia melompat-lompat dan menari-nari di depan televisi setiap pulang sekolah. Kupikir ini adalah ide bagus. Selama ini ia selalu bermain game dengan duduk di depan komputer atau tiduran di atas kasur sambil memegang ponsel. Ia jadi jarang bergerak, sementara aku khawatir berat badannya yang semakin bertambah akan membuat tubuhnya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, setidaknya peredaran darahnya menjadi lebih lancar, ia juga jadi tampak lebih bersemangat.

Kadang-kadang, aku bermain dengannya pada hari libur atau ketika aku pulang kerja lebih awal. Permainan yang sedang ia gandrungi adalah sebuah platform game yang mengharuskan pemain melompat-lompat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adiktif. Musiknya menyenangkan, sistem skor yang digunakan juga membuat kami berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain. Aku pun menyukainya dan nyaris ketagihan. Namun lama kelamaan aku sadar, adikku sudah mulai keluar batas. Kadang ia bermain hingga larut malam, bahkan pada pagi hari ia menyempatkan diri untuk bermain sebelum sarapan. Aku tak bisa membiarkannya melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, sebab sejak kecil ia memiliki kondisi jantung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan berat hati, aku membuat peraturan. Ia hanya boleh bermain pada hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia harus belajar atau melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu melelahkan. Aku berusaha tegas. Sejak orang tua kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab untuk menjaganya.

Kukira ia benar-benar menurut. Sejak kubuat peraturan itu, aku memang tak pernah lagi melihat ia melompat-lompat di depan televisi setelah pulang sekolah. Namun adikku itu tak hanya lemah secara fisik, ia juga bebal dan kekanak-kanakan, bahkan kurasa ia agak terbelakang secara mental.

Suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena harus buang air kecil. Ketika hendak kembali ke dalam kamar, aku menyadari ada cahaya-cahaya yang tidak biasa dari ruang tengah. Aku memeriksa ruangan itu dan mendapati adikku sedang bermain video game diam-diam dengan lampu ruangan yang dimatikan dan suara yang dikecilkan. Aku memarahinya habis-habisan. Kupaksa ia mematikan televisi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Rupanya ia sangat penasaran ingin memecahkan high score yang kucetak minggu lalu. Alasan yang kekanak-kanakan sekali.

Sayangnya, setelah kejadian itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyembunyikan X-Box itu dan menguncinya di dalam lemari. Namun aku malah membiarkannya di tempat semula, entah karena malas atau terlalu percaya pada janji adikku. Hingga pada suatu malam, aku menyesali kelalaianku itu.

Saat itu aku harus kerja lembur hingga pukul sebelas malam. Aku sudah memesankan makanan untuk adikku lewat delivery service dan berpesan agar ia segera tidur setelah mengerjakan PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menyadari bahwa televisi dan X-box sedang menyala di ruang tengah. Ia mengulanginya lagi. Namun kali ini adikku tidak sedang melompat-lompat, ia sudah terkapar di atas lantai, tak bergerak sedikit pun. Jantungnya sudah tidak berdetak. Aku terlambat.

Aku dirundung kesedihan sejak kejadian itu. Aku merasa gagal mengemban amanat kedua orangtuaku. Selama hampir dua minggu lamanya, aku tak bisa menonton televisi di ruang tengah karena hal itu hanya akan membuatku depresi. Hingga pada suatu sore di akhir pekan, aku memutuskan untuk bangkit dan menghadapi kesedihanku sendiri. Aku tak boleh berlarut-larut. Kunyalakan X-Box dan televisi, lalu kucoba memainkan game yang dulu dimainkan adikku. Hanya dengan begitulah aku bisa pulih dan mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah beberapa kali bermain, aku menyadari bahwa high-score yang kucetak setiap sore selalu saja dipecahkan. Bukan olehku, tapi oleh pemain lain. Mungkinkah aku pernah salah memasukkan nama dan–karena terlalu sedihnya–malah memasukkan nama almarhum adikku sendiri?

Kemarin malam, aku terbangun dari tidur karena udara terasa panas dan aku merasa haus. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari. Aku mengambil minum di dapur dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun saat melintasi ruang tengah, aku melihat cahaya-cahaya berkilatan samar. Kulangkahkan kakiku ke arah ruangan itu. Pikirku, mungkin sebelum tidur aku lupa mematikan televisi, Namun ketika langkahku semakin dekat, aku bisa mendengar suara musik yang sangat familiar di telingaku.

Aku mengintip dari balik dinding. Lututku lemas, sekujur tubuhku merinding. Di sana, di depan televisi dan X-Box, aku dapat melihat siapa yang selama ini selalu memecahkan skorku. Adikku sendiri. Adikku yang sudah meninggal melompat-lompat di tengah ruangan yang gelap. Cahaya warna-warni dari layar televisi menyinari wajahnya yang pucat, matanya yang putih mendelik, dan bibirnya yang hitam tanpa ekspresi. Setiap kali ia mendarat, lalu melompat lagi, aku dapat mendengar suara gesekan samar dari kain kafan yang masih membungkus tubuhnya. Entah berapa kali ia melompat, aku tak menghitungnya, sebab aku jatuh pingsan ketika suara dari game berteriak nyaring, “New high score!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).