Mencoba Menerjemahkan: On the River11 min read

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya sering merasa kesulitan hingga harus mencari tulisan dalam bahasa aslinya (maksudnya: bahasa Inggris) terlebih dahulu. Meski membaca buku terjemahan (apalagi yang diterjemahkan dengan buruk) adalah hal yang menyebalkan, tapi saya sadar bahwa menerjemahkan tulisan bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali saya mencobanya, dan biasanya gagal.

Siang tadi, dari sebuah grup literatur horor, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah cerpen yang lumayan menarik. Cerpen itu berjudul “On the River” oleh Guy de Maupassant (1850-1893). Iseng-iseng, saya mencoba menerjemahkan cerpen tersebut. Awalnya tidak terlalu sulit. Namun memasuki pertengahan cerita, terjemahan saya semakin amburadul. Selain karena terjebak dengan penerjemahan kata per kata, penyebab kekacauan lain adalah gaya bahasa cerpen yang agak tidak biasa. Ketika narator berganti peran menjadi si pendayung, kalimat-kalimatnya menjadi penuh dengan tanda koma dan terputus-putus. Mungkin penulisnya sengaja melakukan itu, mungkin juga tidak. Yang jelas, ketika saya mencoba menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, tulisan ini menjadi buruk. Apalagi ketika ternyata di tengah-tengah cerpen ada sebuah puisi yang sulit saya pahami. Lengkaplah usaha saya memorak-porandakan karya orang ini. Lain kali saya akan mencari tulisan yang lebih mudah.

Update: Sepertinya cerpen yang saya terjemahkan dari bahasa Inggris ini asalnya ditulis dalam bahasa Prancis.

Cerpen sumbernya bisa dibaca di sini. Cerpen yang sudah saya terjemahkan (dan harus saya katakan, tidak terlalu berhasil) bisa dibaca di bawah ini. Silakan bila ada yang ingin mengoreksi atau memperbaiki.

—————————————————————————————————–

Di Atas Sungai

Musim panas lalu aku menyewa sebuah rumah kecil di tepi sungai Seine, beberapa leagues1 dari Paris, dan tidur di sana setiap malam. Setelah beberapa hari, aku berkenalan dengan salah seorang tetanggaku, laki-laki berumur antara tiga puluh dan empat puluh tahun, contoh orang paling mengherankan yang pernah kutemui. Ia telah lama berperahu dan tergila-gila dengan kegiatan berperahu. Ia selalu berada di tepi sungai, di atas sungai, atau di dalam sungai. Ia pasti dilahirkan di atas perahu, dan pada akhirnya juga akan meninggal di atas perahu.

Suatu malam ketika kami berjalan di sepanjang tepi sungai Seine, kuminta ia menceritakan kehidupannya di sungai. Lelaki yang baik itu langsung tertarik, bicaranya menjadi fasih, bahkan puitis. Ada gairah di dalam hatinya, sebuah gairah yang mengisap-isap dan tak tertahankan—sungai itu.

Ah, ucapnya kepadaku, betapa banyak ingatanku yang terhubung dengan sungai yang mengalir di sebelah kita itu! Kalian yang hidup di jalanan tidak tahu apa-apa tentang sungai. Namun coba dengarkan seorang pemancing saat ia bercerita. Baginya sungai adalah sesuatu yang misterius, dalam, asing, negeri penuh keajaiban dan phantasmagoria2 yang pada waktu malam membuatnya melihat hal-hal tak nyata, mendengar suara-suara tak dikenal, dan gemetar tanpa alasan, seolah sedang melewati pemakaman–dan memang, faktanya, sungai adalah pemakaman paling menakutkan, pemakaman tanpa nisan.

Daratan tampak terbatas bagi pendayung perahu di sungai, sedangkan pada malam yang gelap, ketika tak ada bulan, sungai tampak tak terbatas. Seorang pelaut tidak memiliki perasaan yang sama terhadap laut. Laut memang kejam dan tanpa ampun, itu benar; ia menjerit dan menderu, tetapi laut yang agung itu jujur; sementara sungai tenang dan mencurigakan. Ia tidak bicara, ia mengalir tanpa suara; tapi bagiku gerak kekal dari aliran air itu lebih mengerikan daripada ombak tinggi di samudera.

Para pemimpi yakin bahwa laut menyembunyikan bidang biru yang luas dalam pelukannya, tempat orang-orang yang tenggelam mengembara di antara ikan-ikan besar, hutan-hutan yang ganjil, dan gua-gua kristal. Sungai hanya memiliki kedalaman hitam tempat orang membusuk dalam lumpur. Namun sungai terlihat indah ketika ia berkilau di bawah sinar mentari terbit sambil perlahan-lahan menepuk tepi yang diselimuti alang-alang berbisik.

Penyair berkata, tentang lautan,

Oh ombak, tragedi duka apa yang kautahu–
Ombak yang dalam, kengerian hati ibu yang berlutut!
Kauceritakan mereka satu sama lain sambil bergulung
Di atas gelombang pasang yang mengalir, yang berikan
Nada sedih putus asa dalam suaramu
Saat kau bergulung dalam malam dengan gelombang pasang 

Ya, kupikir cerita yang dibisikkan oleh alang-alang kurus, dengan suara mereka yang pelan dan halus, pasti lebih menakutkan daripada tragedi penuh kesedihan yang diceritakan deru ombak.

Namun bila kau bertanya soal pengalamanku, akan kuceritakan satu petualangan yang kualami sepuluh tahun lalu.

Sama seperti sekarang, aku tinggal di rumah Mother Lafon, dan salah satu teman dekatku, Louis Bernet yang sekarang berhenti berperahu, meninggalkan sepatu rendahnya dan leher telanjangnya demi pergi ke Supreme Court, tinggal di desa C., dua leagues dari sungai. Kami makan bersama setiap hari, kadang di rumahnya, kadang di rumahku.

Suatu malam, ketika aku dalam perjalanan pulang dan sangat kelelahan, sambil bersusah payah mendayung perahu besar berukuran dua belas kaki, yang selalu aku bawa setiap malam, aku berhenti sesaat untuk mengambil napas di dekat tempat yang diselimuti alang-alang, sekitar dua ratus meter dari jembatan rel kereta.

Itu adalah malam yang indah, bulan bersinar terang, sungai bercahaya, udara tenang dan lembut. Kedamaian itu membuatku terbuai. Terpikir dalam benakku, sepertinya menyenangkan menghisap pipa di tempat itu. Aku mengambil jangkar dan kulemparkan ke sungai.

Perahu mengapung mengikuti arus, menarik rantai hingga ke ujungnya, lalu berhenti, dan aku duduk senyaman mungkin di bagian belakang perahu dengan beralaskan kulit domba. Tak ada suara yang dapat kudengar, meski terkadang sepertinya aku dapat mendengar suara air menepuk-nepuk pinggiran sungai, dan aku menyadari ada sekelompok alang-alang tinggi menyerupai bentuk yang aneh dan tampak, sesekali, bergerak.

Sungai sangat tenang, tapi aku merasa diriku terpengaruh oleh keheningan tak biasa yang mengelilingiku. Semua makhluk, katak dan kodok, para penyanyi malam dari rawa, diam.

Tiba-tiba seekor katak berkuak di sebelah kanan, dekat denganku. Aku merinding. Ia berhenti, dan aku tak mendengar apa-apa lagi, dan benar-benar memutuskan untuk merokok demi menenangkan pikiran. Namun, meski aku adalah perokok berpengalaman, aku tak mampu merokok; pada hisapan kedua aku merasa mual, dan aku berhenti mencoba. Aku mulai bernyanyi. Bunyi suaraku sendiri membuatku tersiksa. Jadi aku berbaring diam, tapi sebuah gerakan kecil pada perahu menggangguku. Bagiku ia seperti membuat gerakan yang tiba-tiba, dari satu tepi ke tepi sungai yang lain, menyentuh setiap tepi bergantian. Lalu aku merasakan sebuah kekuatan, atau sebuah sosok, yang tak terlihat menarik perahuku ke permukaan air dan mengangkatnya, lalu membiarkannya terjatuh lagi. Aku terlempar seperti terkena angin ribut. Aku mendengar suara berisik di sekelilingku. Aku segera bangun melompat. Sungai masih berkilau, semuanya tenang.

Kurasakan nyaliku ciut, dan aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Kutarik rantai jangkar, perahu mulai bergerak; lalu aku merasa ada kekuatan yang menahannya. Aku menariknya lebih keras lagi, jangkarnya tidak keluar; ia tersangkut sesuatu di dasar sungai dan aku tak bisa mengangkatnya. Aku mulai menarik lagi, tapi sia-sia. Lalu, dengan dayungku, aku membelokkan perahu hingga kepalanya mengarah ke hulu agar posisi jangkar berubah. Tak ada gunanya, ia masih tersangkut. Aku menjadi gusar dan menggoyang-goyangkan rantai itu secara kasar. Tak ada yang bergerak. Aku duduk, putus asa, dan membayangkan keadaanku. Aku tak berharap bisa memutuskan rantai itu, atau melepaskannya dari perahu, sebab rantai itu terlalu berat dan dipancangkan pada batang kayu sebesar lenganku. Namun, berhubung cuaca sedang cerah, kupikir tak lama lagi akan ada pemancing yang datang menolongku. Kemalangan itu membuatku terdiam. Aku duduk dan berhasil, pada akhirnya, menghisap pipaku. Aku memiliki sebotol rum; kuminum dua atau tiga gelas hingga dapat menertawai keadaan. Rasanya begitu hangat; bahkan, bila perlu, aku dapat tidur di bawah bintang-bintang tanpa takut akan mendapat celaka.

Tiba-tiba ada suara ketukan kecil di sisi perahuku. Aku terkejut, dan keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku. Suara itu, tentunya, disebabkan oleh batang kayu yang terbawa hanyut, tapi itu tidak cukup meyakinkan, dan aku kembali menjadi korban dari gejolak saraf yang aneh. Kuraih rantai itu dan kutegangkan ototku mati-matian. Jangkar itu bergeming. Aku kembali duduk, kelelahan.

Perlahan-lahan, sungai diselimuti oleh kabut putih tebal yang mengambang dekat dengan permukaan air, sehingga saat aku berdiri aku tak dapat melihat sungai, kakiku, atau perahuku; aku hanya dapat melihat bagian atas alang-alang dan daratan yang jauh di sana, terbaring putih di bawah sinar rembulan, dengan bidang hitam besar yang naik menuju langit, yang terbentuk dari sekelompok poplar Italia. Aku seperti terkubur sepinggang dalam awan kapas yang putih merata, dan segala khayalan aneh muncul dalam kepalaku. Kupikir seseorang berusaha memanjat ke atas perahuku yang sudah tak bisa kulihat dengan jelas, dan sungai itu, yang tersembunyi oleh kabut tebal, penuh dengan makhluk-makhluk aneh yang berenang di sekelilingku. Aku merasa sangat tidak nyaman, keningku terasa seperti diikat dengan ketat, jantungku berdetak kencang hingga membuat sesak, dan aku berpikir untuk berenang meninggalkan tempat itu. Namun kemudian, pikiran itu membuatku gemetar ketakutan. Aku melihat diriku, tersesat, menebak-nebak dalam kabut tebal itu, bergumul di antara rumput dan alang-alang yang tak dapat kuhindari, napasku berderik oleh rasa takut, tak dapat melihat tepi sungai atau menemukan perahuku; dan sepertinya aku akan merasa kakiku ditarik ke dasar sungai yang hitam.

Kenyataannya, karena aku harus mendaki setidaknya lima ratus meter sebelum menemukan tempat yang bebas dari rerumputan atau semak dan bisa kuinjak, ada kemungkinan sembilan banding satu bahwa aku tak bisa menemukan jalanku di dalam kabut dan aku akan tenggelam, sebaik apa pun aku berenang.

Aku mencoba berunding dengan diriku sendiri. Tekadku memutuskan bahwa aku tidak boleh takut, tapi ada sesuatu selain tekad dalam diriku, dan sesuatu itu merasa takut. Kutanyakan pada diriku sendiri apa yang perlu ditakuti. “Diriku” yang pemberani menertawakan “diriku” yang penakut, dan aku tak pernah menyadari, sebagaimana aku menyadarinya pada hari itu, bahwa ada dua kepribadian yang bersaing di dalam diri kita, yang satu menginginkan, satunya lagi menentang, dan masing-masing menang secara bergantian.

Rasa takut yang bodoh dan tak terjelaskan itu meningkat, dan menjadi teror. Aku tetap tak bergerak, mataku menatap, telingaku waspada. Aku percaya bila ada seekor ikan saja yang melompat dari air, seperti yang sering terjadi, itu sudah cukup untuk membuatku terjatuh, keras dan tak sadarkan diri.

Namun, dengan usaha yang keras aku berhasil kembali menjadi agak rasional. Kuambil botol rumku dan kuteguk beberapa kali. Lalu sebuah ide muncul, dan aku mulai berteriak sekuat tenaga ke semua penjuru mata angin. Ketika tenggorokanku kaku, aku mendengarkan sekeliling. Seekor anjing melolong di kejauhan.

Kuminum rum itu lagi dan kubaringkan tubuhku di bagian bawah perahu. Aku terdiam sekitar satu jam, mungkin dua jam, tidak tidur, mataku terbuka lebar, dengan mimpi buruk tentang diriku sendiri. Aku tak berani bangun, meski aku benar-benar ingin melakukannya. Aku menunda dari waktu ke waktu. Kukatakan pada diriku sendiri: “Ayo, bangun!” dan aku takut bergerak. Akhirnya aku bangkit dengan kewaspadaan tak terhingga seolah hidupku bergantung pada suara sekecil apa pun yang kubuat; dan melihat ke ujung perahu. Aku terpesona oleh pemandangan yang paling mengagumkan, paling mengherankan yang mungkin dapat dilihat. Ini adalah salah satu phantasmagoria negeri ajaib, seperti pemandangan yang diceritakan oleh para musafir saat mereka kembali dari negeri yang jauh, yang kita simak tanpa bisa percaya.

Kabut yang, dua jam lalu, mengambang di atas air, perlahan-lahan menghilang dan berkumpul di tepi sungai, meninggalkan sungai yang teramat jernih; sementara kabut di kedua tepi sungai itu membentuk dinding setinggi enam atau tujuh meter, yang bersinar di bawah cahaya bulan dengan kemurnian memesona seperti salju. Tak ada yang terlihat selain sungai yang berkilau cahaya di antara dua gunung putih itu; dan jauh di atas kepalaku, berlayarlah bulan purnama, di tengah langit bimasakti kebiruan.

Semua makhluk di sungai terbangun. Katak berkuak nyaring, dan setiap saat aku mendengar, pertama ke kanan lalu ke kiri, nada metalik yang mendadak, monoton, dan menyedihkan dari katak-katak betung. Anehnya, aku tak lagi merasa takut. Aku berada di tengah pemandangan yang tak biasa hingga hal paling mengejutkan pun tak dapat mencuri perhatianku.

Aku tak tahu berapa lama hal itu terjadi, karena akhirnya aku jatuh tertidur. Ketika aku membuka mata, bulan telah hilang dan langit pun penuh awan. Air sungai memukul-mukul sendu, angin bertiup, suasana gelap gulita. Kuminum sisa rum dan kupasang telinga, sambil gemetar, karena desiran alang-alang dan suara sungai yang seperti akan membawa bencana. Kucoba melihat, tapi aku tak dapat melihat perahuku dengan jelas, tidak bahkan kedua tanganku, yang kuangkat dekat di depan mata.

Namun sedikit demi sedikit, kehitaman itu mereda. Tiba-tiba aku menyadari ada sosok bayangan yang meluncur cepat, cukup dekat denganku. Aku berteriak, sebuah suara membalas; itu adalah seorang pemancing. Aku memanggilnya; ia datang ke dekatku dan kuceritakan padanya tentang pengalaman burukku. Dia mengayuh perahunya di sisi perahuku dan, bersama-sama, kami menarik rantai jangkar. Jangkar itu tak bergerak. Siang datang, kelabu dan muram, gerimis dan dingin, jenis siang yang membawa kesedihan serta kemalangan. Aku melihat perahu lain. Kami memanggilnya. Lelaki di perahu itu bergabung membantu kami, dan lama-kelamaan, jangkar itu bergerak. Jangkar itu terangkat, tapi perlahan-lahan, perlahan-lahan, ia tertahan oleh sesuatu yang berat. Beberapa saat kemudian kami melihat sebuah benda hitam dan mengangkatnya ke atas perahu. Benda itu adalah mayat wanita tua dengan batu besar yang melingkar di lehernya.

—-

1) League adalah satuan ukur untuk panjang yang pernah lazim digunakan di Eropa dan Amerika Latin. Lihat: http://en.wikipedia.org.advanc.io/wiki/League_(unit)

2) Phantasmagoria, menurut Meriam-Webster adalah suatu pemandangan yang aneh dan seperti mimpi karena selalu berubah-ubah dengan cara yang ganjil. Lihat: http://www.merriam-webster.com/dictionary/phantasmagoria

—-

Foto diambil dari: http://www.freebestwallpapers.info/bulkupload//10/1//Nature/Night-River.jpg

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).