Carrie dan Bullying

Carrie

Beberapa minggu lalu saya baru saja selesai membaca novel Carrie. Saya tahu, saya benar-benar telat. Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin membaca novel “klasik” karya pertama Stephen King ini, tapi baru teringat lagi ketika film remake-nya ditayangkan di bioskop. Novel yang singkat ini membuat saya mencari tahu mengenai kasus bullying remaja (saya tidak tahu padanan bahasa Indonesia-nya yang tepat), sekaligus mengingat-ingat apa yang saya maupun teman-teman saya pernah alami.

Entah mengapa, kebanyakan orang yang saya kenal memang mengaku pernah menjadi korban bullying di masa kecilnya, mulai dari yang sekadar dijauhi, diejek-ejek, dipalak uang jajannya, sampai yang disakiti secara fisik atau dipermalukan di depan umum. Saya sendiri pun pernah berada dalam posisi itu ketika kecil. Memang, kebanyakan orang menceritakan pengalaman pahit itu dengan santai, seolah menganggapnya sebagai hal yang lucu, tapi siapa yang tahu pengaruh apa yang dibawanya hingga dewasa? Bukankah pengalaman masa kecil adalah pembentuk jati diri kita?

Menurut stopbullying.gov, tindakan bullying setidaknya memengaruhi tiga pihak: korban, pelaku, dan penonton. Bagi korban, pengaruhnya antara Continue reading Carrie dan Bullying

First World Problem: Aplikasi Messenger

Di ponsel saya saat ini sudah bertumpuk banyak sekali aplikasi pengirim pesan: WhatsApp, Line, Facebook Messenger, Hangouts (sebelumnya Google Talk), dan yang terbaru BBM for Android. Semboyan negara kita memang Bhinneka Tunggal Ika dan setiap orang berhak membuat dan menggunakan alat komunikasi pilihannya sendiri. Namun dilihat dari sudut pandang pengguna, menurut saya “banjir” aplikasi pengirim pesan ini sangat tidak efisien terhadap sumber daya. Bayangkan, bila semua aplikasi tersebut aktif dalam satu waktu, berarti semakin banyak memori dan daya baterai yang dihabiskan. Belum lagi aplikasi social media lainnya seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Padahal fungsi dari seluruh aplikasi itu bisa dibilang sama, perbedaannya cuma pada gaya dan model bisnis.

Sayangnya, saya tidak bisa begitu saja memilih salah satu aplikasi dan membuang yang lainnya. Aplikasi pengirim pesan dan social media selalu terhubung dengan kepentingan orang lain. Bila salah satu kelompok teman memilih menggunakan WhatsApp, kelompok teman lainnya menggunakan Line, keluarga menggunakan BBM, teman-teman komunitas dunia maya menggunakan Facebook dan Hangouts, berarti untuk bisa  terhubung dengan mereka semua dengan mudah, saya harus memasang semua aplikasi tersebut. Untuk itu, saya pikir ada baiknya bila kita memiliki sebuah aplikasi chatting yang universal dan bisa digunakan semua orang. Pada masa-masa kejayaan YM dan AIM dulu, saya bisa menemukan aplikasi “penjembatan” yang bisa login ke semua penyedia layanan chatting itu. Namun untuk saat ini, saya belum menemukan satu aplikasi yang bisa login ke WhatsApp, Line, dan BBM secara sekaligus.

“Aplikasi chatting yang universal, kamu bilang?” ucap seorang pembaca, yang mungkin adalah Anda sendiri, “Bukannya kita punya teknologi canggih dan universal yang bernama … SMS? Satu aplikasi yang bisa digunakan di semua ponsel, baik yang pintar maupun yang dungu.”

Saya tahu. Dorongan untuk kembali ke dasar itu sangat brilian. Namun saya teringat, hal apa yang membuat orang-orang pada awalnya beralih dari SMS ke mobile messenger? Setahu saya, orang-orang berbondong-bondong pindah dari layanan SMS ke BBM (dan mulai saat itu menolak membalas SMS dari temannya yang tidak punya BlackBerry) karena masalah biaya. Biaya paket data untuk menggunakan aplikasi chatting, terutama paket yang unlimited dan gratis, dianggap lebih murah daripada tarif SMS dan MMS. Saya tidak hapal tarif SMS seluruh operator saat ini, tapi selama biaya SMS masih lebih mahal daripada biaya paket data, rasanya akan sulit untuk mengajak orang kembali menjunjung tinggi aplikasi persatuan, aplikasi SMS.

 

Menuju Nanowrimo 2013

 

nanowrimoNanowrimo sebentar lagi akan dimulai. Para penulis di seluruh dunia sudah mulai ramai membicarakannya di forum-forum maupun social media, begitu pun di situs resmi Nanowrimo yang telah dipoles dengan tampilan baru. Kita mulai menarik napas, mempersiapkan stamina untuk mengalahkan rasa malas dan kebuntuan ide, juga untuk bertahan hidup melewati ini semua.

Saya baru satu kali mengikuti Nanowrimo, yaitu tahun lalu. Untuk orang dengan stamina rendah seperti saya, menulis 50.000 kata dalam sebulan adalah pengalaman yang luar biasa melelahkan, tapi juga menyenangkan. Pada minggu pertama, jumlah kata yang saya tulis masih bisa mengikuti target, bahkan sesekali melebihi. Cobaan berat baru datang pada akhir minggu kedua. Selain stamina yang mulai turun, pekerjaan di kantor pun datang dengan gila-gilaan, bahkan beberapa kali saya harus bekerja lembur sampai pagi. Dalam keadaan itu, Nanowrimo terasa seperti mission impossible. Saya paksakan diri untuk mengejar ketertinggalan demi tujuan besar di akhir bulan: rasa bangga telah berhasil mengalahkan diri sendiri … dan diskon Scrivener.

Memaksakan diri untuk menulis dalam keadaan kurang tidur, tubuh lelah, dan pikiran yang tidak fokus adalah cara mudah meraih “trance“. Tiga ribu kata terakhir benar-benar saya tulis dalam keadaan setengah sadar. Hasilnya ajaib, naskah saya seperti catatan kondisi psikologis seseorang, yang berangsur-angsur berubah dari waras menjadi gila. Hasilnya, saya kalah. Namun merasa menang. Jumlah kata yang ditunjukkan oleh Scrivener (trial version) ternyata tidak cocok dengan jumlah kata yang ditunjukkan word counter resmi. Perbedaannya memang cuma 1000 kata, tapi hal itu baru saya ketahui setengah jam terakhir. Sebenarnya masih ada waktu satu hari, tapi saat itu saya sudah berjanji untuk ikut outing dari kantor ke Pulau Seribu dan sudah nyaris datang terlambat. Akhirnya saya merelakan kekalahan itu, setidaknya saya merasa menang secara tidak resmi.

Tahun ini, saya akan mengikuti Nanowrimo lagi. Namun agak berbeda dari tahun sebelumnya, sebab kali ini saya berencana untuk melanjutkan kumpulan novela yang sedang saya buat. Dalam terminologi Nanowrimo, hal ini bisa dikategorikan sebagai rebel. Tidak mengapa, sebab saya memang membutuhkan momen ini untuk menyelesaikan naskah yang tidak selesai-selesai.