Extreme Commuting

Sudah sekitar dua minggu ini saya menjalani sebuah rutinitas baru: pulang-pergi Karawang-Jakarta setiap hari. Awalnya,  saya melakukan ini sebagai solusi masalah finansial dan rumah tangga. Biaya kos di Jakarta terlalu mahal untuk sekadar dipakai tidur dan saya ingin bisa bertemu istri setiap hari. Selain itu, ada pula alasan lain: saya ingin mencari suasana baru … dan saya suka naik kereta.

Awalnya saya selalu menggunakan WB Travel untuk pulang ke Karawang seminggu sekali. Namun, sejak saya mengetahui bahwa kereta ekonomi lokal tujuan Jakarta – Cikampek/Purwakarta sudah lumayan nyaman dan relatif kosong pada malam hari, saya pun tergoda.

Kenyataannya tidak seindah yang saya bayangkan. Saya terjerumus dalam lembah gelap bernama extreme commuting,

Continue reading Extreme Commuting

Iklan Audio: Ujian Kewarasan di Halte Busway

6186786217_f136fd53c4_zSore itu, sudah hampir satu jam saya berada di ruangan yang panas, berdesakan dengan puluhan orang yang bau keringat, dan mendengarkan suara perempuan bernada menjengkelkan yang diputar secara looping dari pengeras suara. Napas mulai sesak, tubuh terasa lelah, dan celakanya, saya lupa membawa earphone. Tidak pernah sebelumnya saya merasa begitu menyesal telah lupa membawa earphone, kecuali pada saat itu, saat saya harus menunggu bus di halte busway sambil mendengarkan iklan kartu kredit Standard Chartered Bank secara non-stop.  Continue reading Iklan Audio: Ujian Kewarasan di Halte Busway

Township dan Indahnya Bertani di Layar Sentuh

township intro

Beberapa bulan belakangan ini, saya sering bermain game Township di ponsel Android. Game ini memang bukan game baru, tapi kebetulan hasrat bermain game manajemen saya bangkit kembali setelah sadar bahwa saya tidak berbakat bermain Candy Crush. Awalnya, saya sempat mencoba Clash of Clans, karena konon game “tawuran” ini lebih manly daripada game bercocok tanam. Namun, berhubung saya malas bergabung dengan clan dan menyesuaikan waktu main saya dengan pemain-pemain lain yang terdiri dari ABG hingga om-om kantoran, saya pun mencoba game pertanian. Continue reading Township dan Indahnya Bertani di Layar Sentuh

Sakit

Ada perasaan lega yang muncul saat aku melangkahkan kaki ke kamar kos. Irama lagu itu, yang seharian tadi nonstop diputar di kantor, akhirnya bisa pudar juga dari memori otakku. Lagu itu benar-benar menimbulkan trauma. Aku bisa membayangkan, seandainya tahun depan perang dunia ketiga meletus, lagu itu pasti akan menjadi alat interogasi yang cukup ampuh.

Kututup pintu kamar erat-erat, lalu kuletakkan sebungkus empek-empek yang kubeli di perempatan jalan. Malam ini aku berencana untuk makan malam sambil mendengarkan beberapa musik dari laptop. Musik apa saja, yang penting bisa menetralisir sisa-sisa irama lagu itu dari kepala hingga benar-benar bersih seratus persen. Kunyalakan laptop, lalu kubuka program pemutar musik. Kukira aku sudah aman, kupikir semuanya akan berjalan mulus, tapi aku benar-benar salah. Belum sempat aku menekan tombol “play”, sebuah suara terdengar dari luar kamar.

Itu adalah suara anak tetangga. Merasa penasaran, aku mendekat dan mendengarkan suara itu baik-baik. Namun aku segera menyesal ketika menyadari apa yang sedang anak itu lakukan. Napasku sesak seketika dan tanganku gemetar.

Anak kecil usia TK itu sedang bernyanyi, menyanyikan lagu yang belum bisa ia pahami dengan otak polosnya, menebarkan teror dan kengerian ke dalam telingaku. Andai saja ia paham bahwa lagu itu diciptakan bukan untuk telinga manusia fana. Nada itu, nada dari kerak neraka yang meletup-letup. Irama itu, irama dari dentuman kehancuran di suatu sudut di jagat raya. Dan lirik itu, lirik durjana yang sanggup membangunkan mereka yang telah mati hanya untuk membunuhnya kembali.

“Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku. Sakitnya tuh di sini, melihat kauselingkuh,” dendang anak kecil itu tanpa menyadari kerusakan apa yang ia tengah ia perbuat di muka bumi.

Aku berusaha menjerit, tapi yang keluar dari tenggorokanku hanyalah desisan halus. Dapat kurasakan otakku meleleh menjadi bubur putih yang keluar dari lubang telinga; hangat, basah, dan kental. Lalu tanpa bisa kukendalikan, tubuhku terpelintir, wajahku mungkin sudah berubah seperti lukisan The Scream, dan entah apa yang terjadi selanjutnya.

Aku rasa, aku terjerembab ke dalam dimensi lain, sebuah dimensi yang mengerikan. Dalam dimensi itu, lagu tadi terdengar berulang-ulang, looping tanpa akhir, selama-lamanya, selama keabadian itu sendiri.

“Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini.”

Sungguh, Tidak Ada Paksaan dalam Horor

Berhubung istri sedang tidak ingin diajak nonton film horor, akhirnya hari Minggu lalu saya iseng menonton film Annabelle sendirian di salah satu bioskop XXI. Memang, beberapa teman telah mewanti-wanti bahwa film ini mengecewakan, tapi saya masih merasa penasaran.

Ada tiga orang yang duduk di sebelah saya, dua orang tampak seperti sepasang kekasih, dan satu orang lagi tampak seperti teman dari pasangan ini. Orang terakhir ini perlu dikasihani. Tidak hanya dia menjadi kambing congek yang harus menemani temannya pacaran, ia juga—di luar kehendaknya—harus menonton film horor. Ia selalu menunduk, menyalakan ponsel sepanjang film (terutama saat adegan seram), dan mungkin di dalam hatinya mengutuki pertemanan abusive yang ia jalani. Ia tentu bukanlah satu-satunya orang yang mengalami penderitaan seperti itu. Setiap kali menonton film horor di bioskop, saya hampir selalu menemukan orang seperti dia.

Oleh karena itu, saya ingin menyerukan kepada semua orang yang membaca bog ini agar jangan pernah memaksa temanmu menonton film horor kalau memang ia tidak menginginkannya. Kamu—yang merasa diri pemberani—mungkin bisa tertawa melihat temanmu yang penakut itu menjerit-jerit atau berkeringat dingin, tapi tanpa sadar kamu telah menzalimi banyak orang. Pertama, kamu menzalimi temanmu sendiri. Kamu telah merenggut kemerdekaannya sebagai manusia yang bebas menentukan tontonannya sendiri. Kedua, kamu menzalimi penonton lain yang ingin menonton film horor dengan nyaman. Akibat temanmu yang masuk bioskop dengan paksa itu, kami jadi terganggu dengan cahaya layar ponsel yang ia nyalakan sepanjang film.

Begitu pula sebaliknya, bila kamu adalah orang yang pernah menjadi korban para penggemar film horor ini, kamu harus berani melawan dengan tegas. Katakan dengan berani bahwa kamu takut. Terdengar seperti paradoks, tetapi itu benar, kadang kita butuh keberanian untuk menyatakan rasa takut.

Lalu bagi para penggemar film horor, ketahuilah bahwasanya kamu sekali-sekali tidak lebih pemberani atau lebih hebat dibandingkan penggemar film lain. Horor sebagai bentuk hiburan hanya diberikan kepada mereka yang dengan suka rela ingin menerimanya. Di luar itu, horor adalah penindasan. Sungguh, tidak ada paksaan dalam menikmati genre horor.

Maaf kalau tulisan ini terkesan random. Intinya, saya cuma ingin bilang bahwa film Annabelle memiliki cerita yang membosankan dan mengecewakan, sampai-sampai sepanjang film saya malah memikirkan hal ini.

Di Antara Kelahiran dan Kematian

Konon, ada tiga kejadian besar dalam kehidupan manusia yang selalu menjadi inspirasi para seniman dan pujangga. Tiga kejadian besar itu adalah kelahiran, kematian, dan apa yang ada di antaranya: pernikahan. Mungkin itulah sebabnya banyak orang yang mengalami kegugupan (atau bahkan ketakutan) menghadapi pernikahan. Mereka akan menerima ucapan “selamat menempuh hidup baru”, layaknya bayi yang baru mengalami kelahiran ke dunia setelah mengalami kematian terlebih dahulu. Bagi saya dan sebagian orang lainnya, pernikahan menjadi sangat sakral karena kami ingin melakukannya hanya satu kali, bilangan yang sama seperti kelahiran dan kematian kami.

Lamunan itu berhembus dalam kepala saya saat saya sedang duduk di sebuah minimarket beberapa hari lalu, sambil menggenggam segelas kopi dari gelas kertas dan sesekali melihat ponsel, menunggu seseorang. Pengunjung-pengunjung lain sedang sibuk berbincang tentang Continue reading Di Antara Kelahiran dan Kematian

Hari Ini Saya Tidak Mengantuk

Seharian ini mata saya terasa jernih dan mulut saya hampir tidak menguap sama sekali, padahal saya yakin bahwa semalam saya kurang tidur. Sangat kurang. Kira-kira pukul setengah satu dini hari saya baru naik ke tempat tidur karena baru saja selesai mengetik di laptop. Sebelumnya saya sempat memeriksa kolong lemari karena ada seekor tikus kecil yang masuk beberapa jam lalu. Ada perasaan menyesal mengapa saya tidur selarut itu.

Posisi tidur sudah nyaman dan semua lampu di kamar telah padam. Saya berbalik ke kanan, telentang, balik ke kiri, lalu kembali ke kanan, tapi rasa kantuk tak juga muncul. Saya pejamkan mata, lalu mencoba mengosongkan pikiran, menghitung angka, atau membaca doa, tapi sia-sia. Satu jam berlalu, mata saya masih bisa terbuka lebar dan jernih. Padahal saya tidak meminum kopi dua hari belakangan ini karena batuk dan flu yang sedang menyerang. Oh, mungkin karena batuk itu. Mungkin karena tenggorokan saya terasa gatal setiap lima belas menit sekali sehingga saya tidak bisa tidur. Namun yang saya rasakan bukanlah rasa kantuk yang terganggu, melainkan rasa kantuk yang tidak muncul sama sekali.

Saya bergelut dengan waktu dan kebosanan hingga jam dinding menunjukkan pukul setengah empat pagi. Sebentar lagi Subuh. Saya bertanya-tanya, mungkinkah sebenarnya saya sempat tertidur tanpa sadar? Kalau tidak, gawat. Berarti hari ini saya harus pergi ke kantor tanpa tidur sama sekali. Saya membayangkan mata saya akan perih ketika menghadapi monitor komputer dan saya akan ketiduran saat mendengarkan khutbah Jumat. Anehnya, semua itu tak terjadi.

Sekarang sudah pukul lima sore dan mata saya masih terasa jernih. Tidak ada rasa kantuk yang menyerang siang tadi seperti siang-siang biasanya. Tubuh saya terasa lemas, tapi ada energi dan adrenalin yang mendorong kesadaran saya sepanjang hari, entah dari mana, entah untuk apa. Pertanyaan itu muncul lagi: benarkah saya tidak tidur tadi malam?

Lalu saya ingat bahwa semalam saya sempat bermimpi–yang artinya pasti saya sempat tertidur. Mimpi itu, mimpi yang sangat buruk itu, entah terjadi pada jam berapa. Dalam mimpi itu ada darah membanjiri lantai, ada potongan tubuh manusia bergeletakan, dan ada orang-orang yang saya kenal sedang mencincang manusia lain dengan santai seolah semua itu wajar. Dalam mimpi itu saya ketakutan; mata terbelalak lebar, jantung berdetak kencang, dan kaki merangkak sekuat tenaga. Saya tidak ingat apakah dalam mimpi itu saya berhasil melarikan diri atau masih terus berlari, berlari hingga sekarang.

Sekarang matahari mulai merangkak turun dan mata saya masih terasa jernih, terbuka lebar, seperti sedang mewaspadai sesuatu.

Illustration By: WaithamaiCC BY 2.0