Refleksi

Kutatap wajah mungilnya, saat ia tersenyum, saat ia menangis. Betapa aku mencintainya atas cahaya harapan yang ia pancarkan. Mungkin dulu aku juga seperti dirinya. Mungkin dulu aku juga menjanjikan harapan-harapan–yang hingga kini tak benar-benar aku penuhi.
 
Pantaskah bila aku berharap ia akan mencintaiku juga? Tidak. Mungkin kelak ia akan melupakanku. Mungkin kelak ia akan mengabaikanku. Seperti aku melupakan masa kecilku, yang perlahan-lahan tenggelam dalam lautan waktu.
 
Hanya ada kepingan ingatan yang kini mengambang di atas permukaan, yaitu saat aku berbaris di depan pintu masuk sekolah, bersama-sama merapal doa yang maknanya tak kupahami hingga dua puluh tahun kemudian: Tuhanku, sayangilah kedua orang tuaku, sebagaimana mereka menyayangi aku ketika aku masih kecil.

Hijrah ke Ubuntu

Sejak dua bulan lalu, saya kembali mencoba hijrah dari Windows ke Linux (baca: Ubuntu). Saya sadar bahwa saya hanya pengguna komputer biasa, bukan programmer ataupun IT geek. Kegiatan yang saya lakukan di depan komputer tak jauh dari mengetik, browsing, menonton film, mendengarkan musik, mengolah gambar, dan sesekali bermain video game. Namun, semakin hari dorongan untuk hijrah itu terasa semakin kuat.

Kita sebenarnya sudah semakin terbiasa dengan Linux–terutama bagi pengguna smartphone berbasis Android–sehingga proses hijrah ke Linux di desktop tidak terasa seberat dulu. Tambah lagi, perkembangan OS open source itu kini sudah kian pesat dan semakin user-friendly.

Awalnya, saya hanya berani memasang Xubuntu di netbook kecil saya yang murah meriah. Saya memilih Xubuntu karena konon ia membutuhkan spesifikasi yang lebih ringan dibandingkan Ubuntu versi GNOME. Netbook itu umumnya saya gunakan untuk mengetik ringan, tapi masih terasa agak lambat, mungkin karena saya ini adalah tipe orang yang suka meng-install apa saja, lapar mata saat menjelajahi Ubuntu Software Center. Di luar kendala hardware dan beberapa bugs kecil, rupanya tidak ada masalah yang berarti.

Sasaran saya berikutnya adalah laptop “utama” yang sudah saya gunakan selama lima tahun ini, yang selama ini sudah dihuni oleh Windows 7. Namun, saya hanya berani memasang Kubuntu secara dual boot bersama Windows, karena beberapa alasan. Pertama, saya masih belum terbiasa dengan GIMP dan Inkscape. Saya bukan digital artist, tapi Adobe Photoshop dan Corel Draw sudah menjadi candu setiap kali saya harus mengolah gambar secara digital. Kedua, sesekali saya juga masih bermain video game yang ada di Windows, meskipun kesibukan belakangan ini membuat saya semakin jarang melakukannya. Khilafah Dual boot adalah solusinya.

Hijrah memang tidak harus dilakukan secara total dalam sekali jalan. Ketika kaum muslimin melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka pun melakukannya secara bertahap. Saya mungkin masih akan membutuhkan Windows untuk hal-hal darurat, tapi sedikit demi sedikit kebutuhan itu akan terus berkurang.

Setelah beberapa minggu mencoba, Kubuntu ternyata tidak terasa nyaman di genggaman saya. Rasanya agak berat dan saya terlalu sering mengalami masalah dalam memasang program-program yang saya inginkan. Akhirnya, saya menghapus Kubuntu dan menggantinya dengan Ubuntu MATE. Ternyata, saya menyukainya. Lebih ringan, lebih stabil.

Benar saja, setelah dua bulan melakukan dual boot dengan Ubuntu MATE, saya sudah semakin jarang mengakses Windows di laptop ini. Semua kebutuhan berkomputer saya (kecuali game) bisa terakomodasi. Saya akan mulai belajar menggunakan GIMP dan Inkscape pelan-pelan (dan juga WINE, kalau saya benar-benar putus asa). Selain itu, saya juga sudah jarang bermain game kelas berat, lebih sering bermain di ponsel bila benar-benar bosan. Kalaupun suatu saat saya menjadi kaya raya, punya banyak waktu luang, dan ingin bermain game di komputer lagi, toh masih ada Steam di Linux.

Saya kira, hanya tinggal waktu saja sampai saya bisa secara kaffah meninggalkan Windows. Semoga saya bisa terus istiqomah.

Kantong Plastik 200

Sore tadi, saya berbelanja beberapa makanan ringan di Indomaret. Saat tiba di kasir, saya melihat papan-papan berisi peringatan tentang bahaya limbah plastik, dukungan terhadap program pemerintah, dan pemberitahuan bahwa saat ini kantong plastik dijual seharga Rp200. Namun kasir tidak menjelaskan atau menanyakan apa-apa kepada saya. Ia hanya memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam kantong plastik berukuran sedang, kemudian menghitung total harganya. Saat saya memeriksa struk belanjaan, ternyata saya telah membeli kantong plastik tersebut seharga Rp200.

Sebuah transaksi yang aneh. Ternyata benar, diam berarti membeli.

Tentu saya tidak hendak menuduh Indomaret telah melakukan “penipuan”, sebab saya belum berbelanja di toko Indomaret lainnya. Mungkin hal ini hanyalah kesalahan oknum kasir yang tidak mengikuti SOP (seperti apa SOP-nya?) atau kesalahan saya yang sengaja tidak mengingatkannya. Di luar itu, saya juga sempat berbelanja di Alfamart dan 7-Eleven, dan keduanya mengonfirmasi dahulu apakah saya ingin membeli kantong plastik mereka atau tidak.

Meski begitu, rasanya wajar bila saya memiliki kecurigaan tersendiri terhadap supermarket/minimarket. Ketika sang kasir memasukkan barang belanjaan saya ke dalam plastik tanpa bertanya, saya teringat pada kasus “kembalian permen” yang dulu sempat menimbulkan protes sehingga akhirnya dilarang. Apakah program plastik berbayar ini akan dimanfaatkan minimarket untuk meraih keuntungan ekstra secara terselubung? Memang, uang yang didapatkan dari penjualan kantong plastik katanya akan digunakan sebagai dana CSR. Namun bukankah CSR memang sudah menjadi kewajiban perusahaan–dengan atau tanpa menjual kantong plastik berbayar?

Tindakan konsumen yang paling masuk akal untuk mendukung program ini tentu bukanlah membeli kantong plastik seharga Rp200 sambil membayarkan kewajiban CSR minimarket, tetapi dengan sebisa mungkin tidak membeli kantong plastik di minimarket. Salah satu solusi yang banyak disarankan adalah dengan membawa tas atau kantong belanjaan sendiri setiap kali berbelanja.

Sementara itu, bila minimarket memang serius mendukung diet plastik, mereka harus lebih eksplisit dalam menentang penggunaan (dan pembelian)-nya. Status kantong plastik saat ini adalah sama dengan barang dagangan minimarket lainnya, sehingga tidak perlu ditawarkan secara khusus kepada konsumen bila konsumen tidak memintanya–kecuali, tentunya, bila kasir minimarket juga merangkap sebagai SPG kantong plastik.

Memberi Tanpa Imbalan

Setiap pagi, ada seorang pengemis tua yang mendatangi rumah Bu Darma. Saat Bu Darma memberi sedekah kepada si pengemis tua, pengemis itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, menampakkan wajah bahagia sambil bercucuran air mata, serta mendoakan Bu Darma agar sehat dan banyak rezeki. Bu Darma ikut bahagia melihat ekspresi pengemis tua itu dan mengamini doa-doanya. Sejak saat itu, si pengemis selalu datang setiap hari, dan Bu Darma selalu memberinya sedekah. Namun, lama-kelamaan, Bu Darma menyadari ada sesuatu yang berubah dari pengemis itu. Lama-lama, senyum syukur di wajah si pengemis itu semakin pudar, doa-doanya semakin pendek, dan bahkan pada suatu ketika, si pengemis berhenti mengucapkan terima kasih kepada Bu Darma.

Bu Darma pun kesal. Ia merasa pengemis itu sudah lancang sekarang, seolah-olah sedekah Bu Darma dianggap sebagai kewajaran dan bukan suatu anugerah lagi. Ia pun memutuskan untuk berhenti memberi sedekah kepada si pengemis tua itu dan mencari pengemis lain yang [menurutnya] lebih menghargai sedekahnya.

Pertanyaannya, apakah sejak awal, Bu Darma memang benar-benar ikhlas memberi sedekah?

Terkadang, kegiatan memberi yang diklaim ikhlas atau tanpa pamrih bisa jadi memiliki motif yang tak disadari. Mungkin, secara sederhana, kita bisa mengatakan Bu Darma “kurang” ikhlas karena ia masih mengharapkan imbalan dari si pengemis, yaitu berupa senyum syukur dan doa-doa. Kegiatan memberi sedekah pun pada akhirnya berubah menjadi kegiatan transaksi belaka, yaitu transaksi menukarkan sejumlah uang dengan ucapan terima kasih dan doa-doa. Ketika Bu Darma tidak mendapatkan imbalan yang ia harapkan, transaksi pun ia hentikan. Jual-beli dibatalkan.

Lebih dari itu, mungkin juga ada semacam “penegasan kekuasaan” yang timbul dari kegiatan memberi. Bukan hal yang sulit dipahami, bahwa orang yang memberi biasanya memiliki “kelebihan” dibanding orang yang diberi.

Ibaratnya begini: Saya memberi kamu uang, berarti saya lebih tinggi dari kamu, oleh karena itu kamu harus menunjukkan sikap sebagai orang yang lebih rendah di hadapan saya: menunduk-nunduk, berlinang air mata, bahkan menyembah-nyembah. Bila kamu tidak menunjukkan sikap itu (atau malah menunjukkan sikap berlawanan), berarti kamu lancang, tidak tahu diri. Saya akan menghukum kamu dengan berhenti memberi kamu uang. Inilah “penegasan kekuasaan” yang saya maksud bisa terjadi dalam kegiatan memberi.

Tentu saya tidak sedang berusaha mengecilkan manfaat praktis dari kegiatan bersedekah. Dalam jangka pendek, sedekah yang kurang ikhlas sekali pun masih lebih bermanfaat bagi orang lain daripada tidak sama sekali. Misalnya, bagi orang yang sedang kelaparan, nasi bungkus yang diberikan oleh politisi penjilat dianggap lebih penting daripada beasiswa kuliah atau modal usaha.

Saya jadi teringat pada kata-kata anak jalanan di bus kota, bahwa “memberi uang seribu-dua ribu tidak akan membuat Anda jatuh miskin dan tidak akan membuat kami kaya raya”. Kalimat itu ada benarnya. Biasanya, orang memberi sedekah memang bukan untuk melenyapkan jurang antara si kaya dan si miskin, melainkan untuk mengatasi masalah jangka pendek. Bahkan, ada juga orang yang bersedekah sambil tetap ingin mempertahankan jurang kaya-miskin dengan alasan “kalau semua orang jadi kaya, nanti siapa yang mau menerima sedekah saya?”.

Dalam kehidupan nyata, tidak banyak kegiatan memberi yang bisa dikatakan murni tanpa pamrih. Program CSR perusahaan-perusahaan bertujuan untuk memperbaiki citra di mata masyarakat dan meningkatkan penjualan, bantuan dari lembaga-lembaga internasional hanya diberikan dengan syarat-syarat tertentu yang menguntungkan pendonor, donatur-donatur LSM memiliki agenda politiknya sendiri, penghuni rumah memberikan hadiah kepada tetangganya demi merawat hubungan sosial yang saling menguntungkan, pelanggan rumah makan memberi uang kepada pengemis supaya pengemis cepat pergi, orang yang memberi sedekah hanya untuk menimbulkan perasaan nyaman dan tenteram dalam dirinya sendiri, dan lain sebagainya.

Lantas, apakah manusia memang makhluk yang selalu pamrih? Mustahilkah bagi seorang manusia untuk memberi kepada manusia lain atas dasar kepedulian yang tulus, tanpa mengharapkan imbalan apa pun–bahkan sekadar doa, ucapan terima kasih, atau perasaan lega? Entahlah. Biasanya, kita menghindari perasaan “riya’” dengan mencegah orang lain menyaksikan kebaikan kita. Padahal, pihak yang paling sering menyaksikan kebaikan kita justru adalah orang yang menerima kebaikan kita itu sendiri.

Basa-Basi Tentang Cuaca

Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Saya ingin beralasan bahwa saya sedang terkena writer’s block, tapi itu pasti akan terdengar lucu, sebab selama ini saya memang bukan orang yang produktif menulis. Meski banyak teman-teman yang berpesan agar saya lebih rajin menulis, kenyataannya, motivasi menulis saya malah semakin menurun belakangan ini.

Banyak hal yang berubah dalam hidup saya, mulai dari pekerjaan baru, tempat tinggal baru, ritme hidup baru, dan status baru sebagai calon ayah. Dengan banyaknya “pembaruan-pembaruan” itu, bukankah seharusnya ada banyak ide untuk membuat tulisan? Kenyataannya justru tidak. Hal-hal baru itu menuntut saya untuk beradaptasi secepat mungkin, dan saya bukanlah orang yang pandai beradaptasi. Konsentrasi dan pikiran saya terpaksa harus dialokasikan lebih besar untuk hal-hal baru itu sehingga akhirnya, ketika menghadapi layar laptop, kepala saya selalu menjadi kosong. Saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan. Sebagian pengalaman-pengalaman saya terlalu pribadi, sebagian terlalu membosankan, dan sebagian lagi masih setengah matang. Meski begitu, saya tetap harus menulis sesuatu di sini.

Tapi tentang apa?

Jawabannya, tentang cuaca.

Cuaca adalah topik pusaka penyelamat momen-momen canggung dan pembuka obrolan paling standar. Ketika kita ingin memulai percakapan dengan teman, kerabat, atau bahkan orang asing, cuaca adalah tema yang paling mudah.

“Aduh, panas banget hari ini.”

“Iya, gerah banget nih. Kapan hujan, ya?”

“Parah banget, badan gue lengket semua.”

“Aku udah mandi empat kali hari ini.”

Dan seterusnya, dan seterusnya. Kadang, kita bisa mengulang informasi yang sama (bahwa cuaca hari ini panas banget) sampai sepuluh kali dalam sehari. Dilihat dari segi efisiensi, ini adalah komunikasi yang sangat boros, redundant. Informasi mengenai keadaan cuaca hanya perlu diucapkan sekali saja bila memang tidak ada perubahan, tidak perlu diulangi setiap lima belas menit sekali. Namun, seperti yang kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk yang penuh dengan basa-basi. Manusia sering kali mengatakan hal-hal yang tidak bermakna demi memenuhi kebutuhannya akan interaksi sosial. Kadang, kita juga berbasa-basi karena terpaksa, sebab nilai-nilai dalam masyarakat menganggap berdiam-diaman dengan orang di hadapan kita sebagai perbuatan buruk dan anti-sosial. Kita harus memaklumi itu.

Lalu, kenapa harus cuaca? Mungkin karena cuaca adalah topik yang paling netral dan paling mudah. Siapa pun bisa mengomentari cuaca tanpa harus menjadi ahli meteorologi dan geofisika. Selain itu, cuaca adalah topik yang paling mudah untuk kita setujui bersama. Kita jarang sekali melihat orang berdebat, tersinggung, apalagi berkelahi karena membicarakan cuaca.

Bayangkan kalau orang-orang menggunakan topik tentang politik, agama, atau moralitas saat membuka obrolan dengan orang yang baru dikenalnya. Mungkin obralan yang timbul akan jauh lebih seru, intelektual, dan variatif, tapi tidak semua orang ingin berdebat dan memeras otak setiap saat, kan?

Basa-basi tentang cuaca juga kadang terasa ironis. Kita membicarakan cuaca seolah ini adalah masalah sepele yang tidak membutuhkan pemikiran serius, tapi di sisi lain kita juga tahu bahwa masalah cuaca dan kondisi alam secara umum  menyangkut kelangsungan hidup kita semua. Cuaca yang kering dan panas telah menimbulkan kebakaran di mana-mana, termasuk kebakaran hutan (atau pembakaran hutan?) yang asapnya sulit dikendalikan. Kekeringan melanda, orang-orang sampai harus melakukan sholat istisqo dan membuat hujan buatan. Pemanasan global, gundulnya hutan, kepunahan hewan; banyak yang percaya bahwa kehancuran bumi tinggal menunggu waktu saja.

Mungkinkah lain kali kita harus lebih serius ketika membicarakan tentang cuaca dan kondisi alam? Mungkinkah seharusnya kita berwajah pucat dan berteriak histeris ketika mengabarkan kondisi alam yang buruk? Entahlah. Saya tidak tahu apakah kecenderungan kita untuk menjadikan topik cuaca sebagai basa-basi berhubungan dengan cara pandang kita terhadap kelestarian alam.

Di luar jendela kamar saya saat ini, ada awan mendung yang terbawa angin. Gerimis sempat turun selama beberapa menit, tapi hujan deras sepertinya akan terjadi di tempat lain. Mungkin tak lama lagi musim penghujan akan tiba, dan kita bisa mengganti basa-basi cuaca kita, dari “hari ini panas banget” menjadi “hujannya deras banget”, atau “banjirnya dalem banget”. Mudah-mudahan tulisan basa-basi singkat ini bisa menjadi pembuka untuk memperlancar tulisan-tulisan berikutnya.

Diam Berarti Membeli

P_20150616_180439_1

Bayangkan skenario berikut.

Kamu adalah seorang gadis muda yang cantik jelita. Suatu hari, ada seorang laki-laki yang meneleponmu dan mengungkapkan perasaannya dengan begitu bersemangat.

“Sudah lama aku suka sama kamu. Kalau kamu jadi pacarku, aku pasti akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku akan memberi kamu kado, bunga, surat cinta, puisi. Aku juga akan mengantar jemput kamu setiap hari dan mengajakmu kencan ke restoran, bioskop, atau karaoke semingu sekali. Asik, kan? Oh, ya, rumah kamu yang di Jalan Mawar Nomor 5, kan?”

“Iya,” jawabmu.

Setelah itu telepon pun ditutup. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pikiranmu masih berusaha mencerna apa maksud lelaki itu. Mungkin dia memang sekadar mengungkapkan perasaannya saja? Continue reading Diam Berarti Membeli

Obrolan Rasis di Kereta

Guy-hitler

Bulan Mei baru saja berlalu. Setidaknya ada dua hal yang selalu saya ingat mengenai bulan Mei. Pertama, adalah hari ulang tahun adik saya dan istri saya. Kedua, adalah kerusuhan Mei 98 yang berujung pada pelengseran Soeharto.

Saya bukan mahasiswa yang ikut berdemonstrasi, bukan pula korban kerusuhan tersebut. Saat itu, saya masih sangat kecil, tidak suka menonton berita, apalagi berita politik. Saya cuma ingat bahwa pada suatu siang, orang tua saya buru-buru mengumpulkan dokumen-dokumen penting, menyiapkan kunci, dan berjaga-jaga di depan rumah, seolah akan terjadi kebakaran atau bencana alam. Tetangga kompleks berkerumun di luar rumah dengan wajah khawatir, kata mereka “kerusuhannya sudah dekat, sudah sampai pasar”.

Namun, hari itu tidak terjadi apa-apa. Di televisi, saya melihat orang-orang sedang menjarah barang elektronik dari sebuah pusat perbelanjaan. Saat masuk sekolah, seorang teman bercerita dengan bangga bahwa saudaranya yang tinggal di Jakarta berhasil “mendapatkan” televisi dan VCD player dalam kerusuhan tersebut. Benar-benar membingungkan, bukankah mereka pencuri?

Continue reading Obrolan Rasis di Kereta