New High Score!

Sejak kubelikan X-Box dan Kinect sebagai kado ulang tahunnya, adikku semakin hobi bermain video game. Ia melompat-lompat dan menari-nari di depan televisi setiap pulang sekolah. Kupikir ini adalah ide bagus. Selama ini ia selalu bermain game dengan duduk di depan komputer atau tiduran di atas kasur sambil memegang ponsel. Ia jadi jarang bergerak, sementara aku khawatir berat badannya yang semakin bertambah akan membuat tubuhnya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, setidaknya peredaran darahnya menjadi lebih lancar, ia juga jadi tampak lebih bersemangat.

Kadang-kadang, aku bermain dengannya pada hari libur atau ketika aku pulang kerja lebih awal. Permainan yang sedang ia gandrungi adalah sebuah platform game yang mengharuskan pemain melompat-lompat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adiktif. Musiknya menyenangkan, sistem skor yang digunakan juga membuat kami berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain. Aku pun menyukainya dan nyaris ketagihan. Namun lama kelamaan aku sadar, adikku sudah mulai keluar batas. Kadang ia bermain hingga larut malam, bahkan pada pagi hari ia menyempatkan diri untuk bermain sebelum sarapan. Aku tak bisa membiarkannya melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, sebab sejak kecil ia memiliki kondisi jantung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan berat hati, aku membuat peraturan. Ia hanya boleh bermain pada hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia harus belajar atau melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu melelahkan. Aku berusaha tegas. Sejak orang tua kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab untuk menjaganya.

Kukira ia benar-benar menurut. Sejak kubuat peraturan itu, aku memang tak pernah lagi melihat ia melompat-lompat di depan televisi setelah pulang sekolah. Namun adikku itu tak hanya lemah secara fisik, ia juga bebal dan kekanak-kanakan, bahkan kurasa ia agak terbelakang secara mental.

Suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena harus buang air kecil. Ketika hendak kembali ke dalam kamar, aku menyadari ada cahaya-cahaya yang tidak biasa dari ruang tengah. Aku memeriksa ruangan itu dan mendapati adikku sedang bermain video game diam-diam dengan lampu ruangan yang dimatikan dan suara yang dikecilkan. Aku memarahinya habis-habisan. Kupaksa ia mematikan televisi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Rupanya ia sangat penasaran ingin memecahkan high score yang kucetak minggu lalu. Alasan yang kekanak-kanakan sekali.

Sayangnya, setelah kejadian itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyembunyikan X-Box itu dan menguncinya di dalam lemari. Namun aku malah membiarkannya di tempat semula, entah karena malas atau terlalu percaya pada janji adikku. Hingga pada suatu malam, aku menyesali kelalaianku itu.

Saat itu aku harus kerja lembur hingga pukul sebelas malam. Aku sudah memesankan makanan untuk adikku lewat delivery service dan berpesan agar ia segera tidur setelah mengerjakan PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menyadari bahwa televisi dan X-box sedang menyala di ruang tengah. Ia mengulanginya lagi. Namun kali ini adikku tidak sedang melompat-lompat, ia sudah terkapar di atas lantai, tak bergerak sedikit pun. Jantungnya sudah tidak berdetak. Aku terlambat.

Aku dirundung kesedihan sejak kejadian itu. Aku merasa gagal mengemban amanat kedua orangtuaku. Selama hampir dua minggu lamanya, aku tak bisa menonton televisi di ruang tengah karena hal itu hanya akan membuatku depresi. Hingga pada suatu sore di akhir pekan, aku memutuskan untuk bangkit dan menghadapi kesedihanku sendiri. Aku tak boleh berlarut-larut. Kunyalakan X-Box dan televisi, lalu kucoba memainkan game yang dulu dimainkan adikku. Hanya dengan begitulah aku bisa pulih dan mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah beberapa kali bermain, aku menyadari bahwa high-score yang kucetak setiap sore selalu saja dipecahkan. Bukan olehku, tapi oleh pemain lain. Mungkinkah aku pernah salah memasukkan nama dan–karena terlalu sedihnya–malah memasukkan nama almarhum adikku sendiri?

Kemarin malam, aku terbangun dari tidur karena udara terasa panas dan aku merasa haus. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari. Aku mengambil minum di dapur dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun saat melintasi ruang tengah, aku melihat cahaya-cahaya berkilatan samar. Kulangkahkan kakiku ke arah ruangan itu. Pikirku, mungkin sebelum tidur aku lupa mematikan televisi, Namun ketika langkahku semakin dekat, aku bisa mendengar suara musik yang sangat familiar di telingaku.

Aku mengintip dari balik dinding. Lututku lemas, sekujur tubuhku merinding. Di sana, di depan televisi dan X-Box, aku dapat melihat siapa yang selama ini selalu memecahkan skorku. Adikku sendiri. Adikku yang sudah meninggal melompat-lompat di tengah ruangan yang gelap. Cahaya warna-warni dari layar televisi menyinari wajahnya yang pucat, matanya yang putih mendelik, dan bibirnya yang hitam tanpa ekspresi. Setiap kali ia mendarat, lalu melompat lagi, aku dapat mendengar suara gesekan samar dari kain kafan yang masih membungkus tubuhnya. Entah berapa kali ia melompat, aku tak menghitungnya, sebab aku jatuh pingsan ketika suara dari game berteriak nyaring, “New high score!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Kehidupan Setelah Mimpi

Ketika seseorang mati di dalam mimpimu, ke manakah ia akan pergi? Apakah ia akan pergi ke kehidupan selanjutnya, ataukah ia akan hilang menguap bersama ingatan dan kesadaranmu? Pertanyaan konyol itu tak pernah terlintas dalam benakku, kecuali setiap kali aku pulang ke kota ini dan menemukan Nurul Romayani sedang duduk di halaman rumahnya, terkadang sambil melamun, terkadang sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang.

Nurul Romayani adalah seorang gadis dari tempat yang sangat jauh. Sejak datang ke sini, ia pernah dibawa ke rumah sakit jiwa meski kemudian melarikan diri. Setelah berkali-kali mencoba Continue reading Kehidupan Setelah Mimpi

Lompatan Si Komang

Dua belas tahun yang lalu, ayahku pernah meninggal. Aku masih ingat, peristiwa itu terjadi satu hari sebelum ulang tahunku yang ke sepuluh. Biasanya ba’da Maghrib ayahku pulang dengan tubuh bercucuran keringat (ia sengaja berjalan kaki dari kantor demi menghemat ongkos), lalu ia akan meminum segelas besar air putih di ruang makan dan mengajak ibuku mengobrol. Namun malam itu ia pulang dalam keadaan yang berbeda. Tubuhnya memang penuh keringat, tapi tangan kanannya tidak memegang gelas. Ia malah memegangi dada kirinya yang kembang kempis, sementara napasnya terengah-engah, lalu ia jatuh dari kursi dengan suara berdebam yang keras.

Continue reading Lompatan Si Komang

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kenapa lemari tua itu selalu memakan rambutnya. Setiap kali ia duduk bersandar di pintu lemari, satu atau dua helai rambutnya selalu terjepit dan putus. Pagi tadi, lemari itu kembali memakan rambutnya sebagai sarapan. Saat itu Widya sedang bersolek sambil duduk membelakangi lemari, dan ketika ia bangkit berdiri, ia menjerit kesakitan karena kepalanya terasa ditarik dengan kuat. Ia menoleh. Dua helai rambut hitam panjangnya menjuntai di sela pintu lemari. Continue reading Lemari Pemakan Rambut

Lelaki yang Menunggu Bayi

By: Jorge GobbiCC BY 2.0

Menara listrik di tepi jalan terlihat seperti sepasang tanduk iblis yang sedang memintal benang. Telunjukku gelisah mengetuk-ngetuk setir mobil, sementara kakiku pegal menginjak kopling untuk menghadapi kemacetan tanpa ujung. Ketika aku berhasil melewati sumber kemacetan itu, aku melihat sebuah truk terguling di pinggir jalan. Di bagian belakang truk itu terdapat lukisan perempuan bahenol dengan huruf-huruf yang ditulis menggunakan cat merah: DEMI ISTRI RELA MATI.

Instingku menyimpulkan semua itu sebagai pertanda. Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada istriku? Di dalam kota, mobilku kembali terhenti oleh lampu lalu-lintas yang menatap merah dan angka digital yang berhitung mundur, seolah bila angka itu habis maka bencana besar akan terjadi.

Ini adalah pertama kalinya istriku melahirkan dan aku datang terlambat. Aku tak menyangka ia akan melahirkan secepat ini. Terakhir kali kami bertemu tak ada tanda-tanda yang meyakinkan. Tetangganya, Pak Jamal dan Bu Jamal, membawa istriku ke bidan ketika mendengar ia menjerit-jerit sendirian di dalam kamar. Namun bidan menolaknya, ia menyarankan agar istriku dibawa ke rumah sakit karena tak dapat melahirkan secara normal. Pak Jamal meneleponku ketika aku masih melakukan meeting di luar kota. Dengan suara yang terbata-bata karena kebingungan, ia memintaku agar segera datang.

Continue reading Lelaki yang Menunggu Bayi

Toilet

1-1242736074LgREPsykopainted

Mulanya cuma keran wastafel yang terbuka sendiri. Air mengucur deras tiba-tiba; seorang karyawan yang sedang mengeringkan tangan melompat kaget. Ia segera keluar dari toilet kantor dengan tubuh merinding dan lutut lemas. Sambil setengah berlari, ia masuk kembali ke dalam ruang kerja, kembali bersama kami yang sedang bekerja lembur mengejar tenggat.

Ketika ia menceritakan pengalamannya dengan terbata-bata, aku tak menganggap serius. Ketakutan dalam diri seseorang bisa membuat segala hal di dalam toilet jadi menakutkan, misalnya pengering tangan yang menyala sendiri karena tersenggol lengan, pintu kamar kecil yang sulit terbuka karena berkarat, atau Continue reading Toilet

Terbenam

Sebagian orang mengenakan bikini atau celana renang, sebagian lagi mengenakan kaos dan celana pendek khas pantai, tapi semuanya menghadap ke arah yang sama: ke barat. Langit sudah mulai bersemu jingga ketika kami tiba di tepi pantai yang ramai itu. Tanggal merah di hari Kamis ini telah menciptakan hari libur baru selama empat hari bagi kebanyakan orang. Ayahku menyewa sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari tepi pantai menggunakan uang tabungannya. Niatnya sudah bulat sejak sebulan yang lalu: bila uangnya sudah cukup, ia akan membawa kami melihat matahari terbenam di pantai.

Semua ini bermula dari kartu pos tua yang ia temukan saat sedang merenovasi kamar tidurnya. Kartu pos itu berisi lukisan matahari terbenam yang sepertinya dibuat menggunakan tangan. Itu adalah masa ketika semua orang belum memiliki kamera di saku mereka dan belum memiliki email untuk mengirimkan pesan bergambar. Di belakang kartu pos itu ada sebuah puisi yang Ayah tulis untuk Ibu, sebuah janji untuk melihat matahari terbenam bersama. Ia baru ingat bahwa janji itu tak pernah benar-benar terpenuhi, bahkan setelah mereka menikah dan memiliki aku dan adikku, bahkan setelah sebulan yang lalu Ibu meninggal dunia.

“Sebentar lagi mataharinya terbenam,” ucap Ayah sambil menggelar tikar dan mengajak kami duduk di sampingnya.

Adikku, Beni, sedang terpana melihat istana pasir yang dibuat seorang pengunjung. Kubujuk dia untuk merapat. “Membuat istana pasir bisa dilakukan esok hari, sekarang saatnya melihat matahari.” Beni menurut. Ia duduk di antara aku dan Ayah.

Langit semakin merah. Matahari berubah menjadi seperti telur, cahayanya tak lagi menusuk mata. Perlahan-lahan, bola jingga itu turun ke bawah, hampir menyentuh cakrawala. Ayah mungkin teringat pada kartu pos itu, tapi aku sudah pasti teringat pada desktop wallpaper yang sering aku lihat di layar komputer. Intinya tetap sama, manusia selalu ingin merekam hal-hal menakjubkan dari pengalaman mereka. Matahari terbenam adalah sebuah pengalaman menakjubkan. Sebagian orang menghubungkannya dengan kesedihan dan perpisahan karena menandakan berakhirnya hari. Bagiku, matahari terbenam adalah momen retrospeksi. Ketika melihat sebagian bola jingga itu tenggelam ke dalam lautan, kami membayangkan sebagian hidup kami yang juga sudah tenggelam bersama berlalunya waktu. Aku melihat kilau di mata Ayah. Suatu saat aku akan berada dalam posisinya, Beni juga.

Sebagian turis bertepuk tangan ketika akhirnya matahari tampak masuk seluruhnya ke dalam lautan. Beberapa pasangan berpelukan, bahkan samar-samar kulihat ada pula yang berciuman. Hari ini sudah usai, tapi semua orang percaya bahwa masih ada hari esok tempat kami akan melakukan hal-hal yang lebih baik. Bagi kami, berakhirnya hari tidak benar-benar ditandai oleh terbenamnya matahari. Ayah lebih akrab dengan suara bel pulang kantor, aku dan Beni lebih akrab dengan perubahan acara televisi menjadi azan Maghrib dan sinetron.

Suasana di sekitar kami perlahan menjadi gelap. Tak ada lagi cahaya alami dari langit, yang tersisa hanya lampu-lampu buatan manusia yang berasal dari restoran dan hotel di belakang sana. Perlahan-lahan para pengunjung bangun dari atas pasir, menepuk-nepuk pantat mereka, dan mungkin bersiap-siap untuk kembali ke hotel dan menyantap makan malam. Kami bertiga juga bangun. Ayah melipat kembali tikarnya.

“Besok jangan lupa bangun pagi,” katanya, “kita akan melihat matahari terbit.”

Matahari terbit, simbol harapan dan permulaan dari segala kegiatan, penawar dari rasa sendu pemandangan sore ini. Tikar sudah digulung, kami pun membalik badan untuk pulang. Beni masih menoleh ke belakang. Kupanggil namanya. Ia pasti masih penasaran dengan istana pasir tadi. Kupanggil lagi, ia tak juga menyahut. Akhirnya aku kembali berbalik dan berniat menarik tangannya. Kusadari, rupanya Beni tak lagi menatap istana pasir, ia menatap langit. Di atas sana, langit yang hitam perlahan tersibak. Mengintiplah dari balik kegelapan itu, sebuah bola berwarna kuning terang. Kegelapan itu sirna, cahaya menyebar ke segala penjuru. Ada matahari lagi.

Semua orang yang telah beranjak pergi kini membalikkan badan. Tatapan-tatapan mata membisu melihat bola cahaya di hadapan kami yang tak terjelaskan. Tak terjelaskan. Langit kembali menjadi siang. Semakin siang.

Catatan: Cerita singkat ini dibuat berdasarkan mimpi saya beberapa hari lalu. Saya yakin, banyak juga orang yang sering mengalami mimpi semacam ini.

Ilustrasi: http://www.scenicreflections.com/download/397170/Red_Sunset_Painting_Wallpaper/