Raja

Foto: CNN Indonesia

Kami terdiam di tengah kemacetan lalu lintas. Ia di kursi kemudi, mencoba bersabar memainkan kopling dan rem, sementara aku membaca linimasa Facebook yang sedang diriuhi postingan tentang kedatangan Raja Arab Saudi.

“Di tengah ketimpangan ekonomi ini, ternyata banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bangga melihat kekayaan dan kemewahan Raja Saudi,” gumamku sambil merebahkan punggung dan membetulkan posisi sabuk pengaman.

“Memangnya kenapa?” tanyanya, masih suntuk memandangi kemacetan tanpa ujung.

“Aku kira orang-orang akan cemburu melihat keluarga kerajaan superkaya itu, apalagi dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka yang melarat,” jawabku.

“Jangan naif. Tidak semua orang miskin cemburu kepada orang kaya. Ada juga yang sudah ikhlas menerima kasta sosialnya. Melihat orang kaya, mereka akan merasa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seorang raja.”

“Lho, memangnya kenapa kalau raja? Raja orang lain, bukan raja mereka,” tanyaku, mencoba mendebatnya.

“Memang bukan, tapi mereka rindu memiliki seorang raja,” ujarnya, mobil melaju beberapa meter, “dan menurutku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sistem kerajaan.”

“Kenapa?”

“Itu karakter orang Indonesia pribumi selama berabad-abad. Demokrasi a la Barat adalah sistem asing yang baru masuk kemarin sore, kurang cocok dengan kultur kita. Lagipula, sistem kerajaan itu lebih efisien dan efektif. Semua orang fokus dengan bidangnya masing-masing. Tidak seperti sekarang, semua orang dipaksa membuat pilihan di luar kapasitasnya. Hasilnya? Geser terus linimasa Facebook-mu, dan kamu akan lihat betapa bodoh pilihan yang mereka buat.”

Aku agak kesal mendengar penjelasannya itu. Aku tidak suka membayangkan hidup dalam sistem yang mengizinkan segelintir orang mendapatkan status sosial eksklusif hanya karena hubungan darah, seefektif dan seefisien apa pun pemerintahannya. Namun aku dapat memahaminya. Ia sudah merasa putus asa dengan kondisi negara ini. Ia tampak lelah. Aku pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

Saat sedang asyik membahas meme Polwan cantik, tiba-tiba suara sirine terdengar nyaring di belakang kami. Mobil-mobil berusaha bergerak ke pinggir, tapi kondisi jalan terlalu padat untuk bergerak. Sirine di belakang semakin nyaring, meraung-raung. Ia memutar setirnya dengan gusar.

“Pejabat kampret! Sok penting!” makinya saat melihat sedan hitam melaju di sebelah kami, diiringi beberapa pengawal.

Perbankan Gaib

“Sampean tidak percaya saya bisa menggandakan uang?” tanya Eyang Sanca, alisnya mengerut dan posisi duduknya maju ke arahku.

“Nggak percaya. Mana mungkin uang bisa digandakan? Apa Eyang pikir saya ini orang kampung yang bisa dibodohi? Saya ini orang kota, berpendidikan!” jawabku sambil menahan tawa.

 

Eyang Sanca menarik napas dalam, lalu mengurut-urut jenggotnya. “Pernah ke bank, kan?”

 

“Pernah dong!” jawabku.

 

“Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seperti saya, sama-sama dukun pengganda uang!” 

 

Aku berdeham, sepertinya aku mulai paham jalan pikirannya, tapi aku ingin mengujinya sedikit. “Maksud Eyang?”

 

“Kalau sampean pergi ke bank, masukin uang di tabungan, deposito, atau investasi lainnya, uang sampean bertambah banyak, kan?” ujarnya sambil melipat tangan di depan dada.

 

“Iya, saya tau itu.”

 

“Nah, apa bedanya? Uang sampean sama-sama jadi berlipat ganda tanpa sampean harus kerja dan cuma tidur-tiduran di rumah. Berarti, konsep menggandakan uang itu bukan sesuatu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

 

Kutatap raut mukanya. Aku tak bisa meremehkan dukun ini, ternyata ia pintar berkelit juga. 

 

“Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya pergi ke Eyang? Lebih enak ke bank, biaya administrasinya lebih rendah; kantornya sejuk pakai AC, nggak bau kemenyan seperti ini; petugasnya juga perempuan cantik, bukan kakek-kakek peyot begini,” ucapku pelan.

 

“Jangan kurang ajar, ya!” suaranya meninggi. “Biar saya kasih tau kenapa saya lebih hebat, bunga yang saya tawarkan itu lima ratus persen! Lebih tinggi dari bank mana pun!”

 

Tawaku hampir meledak mendengar penjelasannya. Jelas-jelas dia ingin menipuku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebesar itu? Diinvestasikan untuk bisnis apa uang saya? Saham apa?”

 

“Investasi gaib!”

 

“Apaan gaib?”

 

“Ini perbankan gaib! Jelas beda dengan perbankan konvensional!”

 

Ia mengeluarkan sebuah buku dari kantong kemeja batiknya. Sebuah buku tabungan berwarna hitam dengan tulisan putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

 

Ia menjelaskan, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupiah, misalnya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nilainya beratus-ratus kali lipat dari nilai rupiah!”

 

“Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

 

“Sampean belum pernah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sampai lima ratus persen karena saya ini menjalankan usaha perbankan dan perekonomian antardimensi, tepatnya alam manusia dengan alam jin,” jelasnya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya kekuatan saja yang bisa”

 

Aku menghela napas. Menarik juga dukun ini. 

 

Ayam Saja Bisa Hidup

Pak Ade bingung. Pengeluaran keuangannya terasa tidak terkendali. Baru saja satu minggu pasca-gajian, tapi saldo di rekeningnya tinggal seujung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uangnya ia belanjakan. Sebagian untuk jajan, sebagian untuk hura-hura, sebagian lagi untuk menunjang gaya hidup, tapi tak ada alokasi untuk tabungan, apalagi investasi.

Ia pun duduk di depan rumahnya, memakai sarung dan kaos oblong, sambil mengobrol dengan anak dan istrinya. Istrinya berkeluh kesah mendengar kondisi keuangan keluarga. Ia menyalahkan Pak Ade yang belakangan hobi mengoleksi batu akik, bahkan membeli beberapa batu dengan harga fantastis hanya karena dibujuk teman-temannya. Sementara itu, Pak Ade dengan santai menyalahkan istrinya yang sering kalap belanja online, membeli baju dan sepatu yang cuma sesekali dipakai saat pergi ke undangan. Anak mereka yang masih TK tidak mengerti apa-apa, tidak paham kalau sebenarnya ia juga ikut disalahkan karena sering merengek minta dibelikan mainan BoBoiBoy dan Avengers. Continue reading Ayam Saja Bisa Hidup

Jam Tua yang Menolak Waktu

Orang bilang, jam yang rusak akan tetap menunjukkan kebenaran, minimal dua kali dalam sehari. Namun hal itu tidak berlaku pada jam tua di rumahku. Kedua jarumnya berhenti di angka dua belas. Anehnya, setiap kali pukul dua belas tiba, jarum panjang jam itu akan mundur satu menit, lalu kembali lagi ke tempat semula satu menit kemudian. Seolah-olah jam itu selalu menolak untuk menjadi benar.

Sejak diwariskan oleh almarhum kakekku dua tahun yang lalu, jam itu menjadi bangkai yang berdiri menjulang di pojok kamar, mengawasi ketika kami tidur sambil membuat sempit ruangan dengan badannya yang besar dan hitam. Istriku sering kali terbangun pada tengah malam karena merasa akan ditimpa oleh benda itu, kemudian penyakit asmanya akan kambuh dan aku harus mengambilkan inhaler dari dalam laci.

Sudah lama aku ingin menjual jam itu, tapi tak ada yang menganggap benda itu cukup berharga untuk ditukar dengan uang. Suatu hari, aku mencoba mengutak-atiknya sendiri. Aku bukan ahli reparasi jam antik, tapi berdasarkan informasi yang kudapatkan dari internet, aku tahu bahwa jam itu seharusnya tak bisa bergerak lagi karena rantai pemberat di dalamnya sudah tak pernah ditarik. Entah kekuatan apa yang membuatnya selalu bergerak setiap pukul dua belas. Merasa geram, kupaku jarum panjang jam itu di angka dua belas, memaksanya untuk menjadi benar.

Malamnya, ketika hampir pukul 12 tepat, kulihat jarum panjang jam itu mencoba memberontak. Ia berusaha mundur dan maju satu menit, tapi tertahan oleh paku yang kupasang. Aku tertawa melihatnya, sekarang ia tak bisa lari lagi dari kebenaran. Setelah puas “membalas dendam” pada jam tua itu, aku pun naik ke tempat tidur sambil berencana membuang benda rongsokan itu besok pagi.

Rasanya aku sudah tidur lama sekali, tapi ketika terbangun, kamar masih gelap. Istriku masih tidur dan tidak ada sinar matahari yang menerobos tirai jendela. Kuperiksa jam di ponsel, dan betapa terkejutnya aku karena angka digital itu masih menunjukkan pukul 00.00. Aku menunggu dalam waktu yang kupikir sudah hampir lima menit, tapi jam di ponsel tetap sama, tetap pukul nol-nol-nol-nol.

Aku bergeming di atas tempat tidurku dalam waktu yang sangat lama, yang tak ingin kuhitung sama sekali. Istriku tak pernah bangun; matahari tak pernah terbit. Bahkan tanpa perlu memeriksanya terlebih dahulu, aku tahu bahwa jam tanganku, jam dinding di ruang tamu, jam besar di alun-alun kota, dan semua jam di dunia ini telah berhenti berputar. Jam tua itu tak pernah tunduk menjadi pengikut, ia memiliki waktunya sendiri.

New High Score!

Sejak kubelikan X-Box dan Kinect sebagai kado ulang tahunnya, adikku semakin hobi bermain video game. Ia melompat-lompat dan menari-nari di depan televisi setiap pulang sekolah. Kupikir ini adalah ide bagus. Selama ini ia selalu bermain game dengan duduk di depan komputer atau tiduran di atas kasur sambil memegang ponsel. Ia jadi jarang bergerak, sementara aku khawatir berat badannya yang semakin bertambah akan membuat tubuhnya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, setidaknya peredaran darahnya menjadi lebih lancar, ia juga jadi tampak lebih bersemangat.

Kadang-kadang, aku bermain dengannya pada hari libur atau ketika aku pulang kerja lebih awal. Permainan yang sedang ia gandrungi adalah sebuah platform game yang mengharuskan pemain melompat-lompat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adiktif. Musiknya menyenangkan, sistem skor yang digunakan juga membuat kami berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain. Aku pun menyukainya dan nyaris ketagihan. Namun lama kelamaan aku sadar, adikku sudah mulai keluar batas. Kadang ia bermain hingga larut malam, bahkan pada pagi hari ia menyempatkan diri untuk bermain sebelum sarapan. Aku tak bisa membiarkannya melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, sebab sejak kecil ia memiliki kondisi jantung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan berat hati, aku membuat peraturan. Ia hanya boleh bermain pada hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia harus belajar atau melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu melelahkan. Aku berusaha tegas. Sejak orang tua kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab untuk menjaganya.

Kukira ia benar-benar menurut. Sejak kubuat peraturan itu, aku memang tak pernah lagi melihat ia melompat-lompat di depan televisi setelah pulang sekolah. Namun adikku itu tak hanya lemah secara fisik, ia juga bebal dan kekanak-kanakan, bahkan kurasa ia agak terbelakang secara mental.

Suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena harus buang air kecil. Ketika hendak kembali ke dalam kamar, aku menyadari ada cahaya-cahaya yang tidak biasa dari ruang tengah. Aku memeriksa ruangan itu dan mendapati adikku sedang bermain video game diam-diam dengan lampu ruangan yang dimatikan dan suara yang dikecilkan. Aku memarahinya habis-habisan. Kupaksa ia mematikan televisi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Rupanya ia sangat penasaran ingin memecahkan high score yang kucetak minggu lalu. Alasan yang kekanak-kanakan sekali.

Sayangnya, setelah kejadian itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyembunyikan X-Box itu dan menguncinya di dalam lemari. Namun aku malah membiarkannya di tempat semula, entah karena malas atau terlalu percaya pada janji adikku. Hingga pada suatu malam, aku menyesali kelalaianku itu.

Saat itu aku harus kerja lembur hingga pukul sebelas malam. Aku sudah memesankan makanan untuk adikku lewat delivery service dan berpesan agar ia segera tidur setelah mengerjakan PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menyadari bahwa televisi dan X-box sedang menyala di ruang tengah. Ia mengulanginya lagi. Namun kali ini adikku tidak sedang melompat-lompat, ia sudah terkapar di atas lantai, tak bergerak sedikit pun. Jantungnya sudah tidak berdetak. Aku terlambat.

Aku dirundung kesedihan sejak kejadian itu. Aku merasa gagal mengemban amanat kedua orangtuaku. Selama hampir dua minggu lamanya, aku tak bisa menonton televisi di ruang tengah karena hal itu hanya akan membuatku depresi. Hingga pada suatu sore di akhir pekan, aku memutuskan untuk bangkit dan menghadapi kesedihanku sendiri. Aku tak boleh berlarut-larut. Kunyalakan X-Box dan televisi, lalu kucoba memainkan game yang dulu dimainkan adikku. Hanya dengan begitulah aku bisa pulih dan mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah beberapa kali bermain, aku menyadari bahwa high-score yang kucetak setiap sore selalu saja dipecahkan. Bukan olehku, tapi oleh pemain lain. Mungkinkah aku pernah salah memasukkan nama dan–karena terlalu sedihnya–malah memasukkan nama almarhum adikku sendiri?

Kemarin malam, aku terbangun dari tidur karena udara terasa panas dan aku merasa haus. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari. Aku mengambil minum di dapur dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun saat melintasi ruang tengah, aku melihat cahaya-cahaya berkilatan samar. Kulangkahkan kakiku ke arah ruangan itu. Pikirku, mungkin sebelum tidur aku lupa mematikan televisi, Namun ketika langkahku semakin dekat, aku bisa mendengar suara musik yang sangat familiar di telingaku.

Aku mengintip dari balik dinding. Lututku lemas, sekujur tubuhku merinding. Di sana, di depan televisi dan X-Box, aku dapat melihat siapa yang selama ini selalu memecahkan skorku. Adikku sendiri. Adikku yang sudah meninggal melompat-lompat di tengah ruangan yang gelap. Cahaya warna-warni dari layar televisi menyinari wajahnya yang pucat, matanya yang putih mendelik, dan bibirnya yang hitam tanpa ekspresi. Setiap kali ia mendarat, lalu melompat lagi, aku dapat mendengar suara gesekan samar dari kain kafan yang masih membungkus tubuhnya. Entah berapa kali ia melompat, aku tak menghitungnya, sebab aku jatuh pingsan ketika suara dari game berteriak nyaring, “New high score!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kenapa lemari tua itu selalu memakan rambutnya. Setiap kali ia duduk bersandar di pintu lemari, satu atau dua helai rambutnya selalu terjepit dan putus. Pagi tadi, lemari itu kembali memakan rambutnya sebagai sarapan. Saat itu Widya sedang bersolek sambil duduk membelakangi lemari, dan ketika ia bangkit berdiri, ia menjerit kesakitan karena kepalanya terasa ditarik dengan kuat. Ia menoleh. Dua helai rambut hitam panjangnya menjuntai di sela pintu lemari. Continue reading Lemari Pemakan Rambut

Toilet

1-1242736074LgREPsykopainted

Mulanya cuma keran wastafel yang terbuka sendiri. Air mengucur deras tiba-tiba; seorang karyawan yang sedang mengeringkan tangan melompat kaget. Ia segera keluar dari toilet kantor dengan tubuh merinding dan lutut lemas. Sambil setengah berlari, ia masuk kembali ke dalam ruang kerja, kembali bersama kami yang sedang bekerja lembur mengejar tenggat.

Ketika ia menceritakan pengalamannya dengan terbata-bata, aku tak menganggap serius. Ketakutan dalam diri seseorang bisa membuat segala hal di dalam toilet jadi menakutkan, misalnya pengering tangan yang menyala sendiri karena tersenggol lengan, pintu kamar kecil yang sulit terbuka karena berkarat, atau Continue reading Toilet