Basa-Basi Tentang Cuaca

Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Saya ingin beralasan bahwa saya sedang terkena writer’s block, tapi itu pasti akan terdengar lucu, sebab selama ini saya memang bukan orang yang produktif menulis. Meski banyak teman-teman yang berpesan agar saya lebih rajin menulis, kenyataannya, motivasi menulis saya malah semakin menurun belakangan ini.

Banyak hal yang berubah dalam hidup saya, mulai dari pekerjaan baru, tempat tinggal baru, ritme hidup baru, dan status baru sebagai calon ayah. Dengan banyaknya “pembaruan-pembaruan” itu, bukankah seharusnya ada banyak ide untuk membuat tulisan? Kenyataannya justru tidak. Hal-hal baru itu menuntut saya untuk beradaptasi secepat mungkin, dan saya bukanlah orang yang pandai beradaptasi. Konsentrasi dan pikiran saya terpaksa harus dialokasikan lebih besar untuk hal-hal baru itu sehingga akhirnya, ketika menghadapi layar laptop, kepala saya selalu menjadi kosong. Saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan. Sebagian pengalaman-pengalaman saya terlalu pribadi, sebagian terlalu membosankan, dan sebagian lagi masih setengah matang. Meski begitu, saya tetap harus menulis sesuatu di sini.

Tapi tentang apa?

Jawabannya, tentang cuaca.

Cuaca adalah topik pusaka penyelamat momen-momen canggung dan pembuka obrolan paling standar. Ketika kita ingin memulai percakapan dengan teman, kerabat, atau bahkan orang asing, cuaca adalah tema yang paling mudah.

“Aduh, panas banget hari ini.”

“Iya, gerah banget nih. Kapan hujan, ya?”

“Parah banget, badan gue lengket semua.”

“Aku udah mandi empat kali hari ini.”

Dan seterusnya, dan seterusnya. Kadang, kita bisa mengulang informasi yang sama (bahwa cuaca hari ini panas banget) sampai sepuluh kali dalam sehari. Dilihat dari segi efisiensi, ini adalah komunikasi yang sangat boros, redundant. Informasi mengenai keadaan cuaca hanya perlu diucapkan sekali saja bila memang tidak ada perubahan, tidak perlu diulangi setiap lima belas menit sekali. Namun, seperti yang kita ketahui bersama, manusia adalah makhluk yang penuh dengan basa-basi. Manusia sering kali mengatakan hal-hal yang tidak bermakna demi memenuhi kebutuhannya akan interaksi sosial. Kadang, kita juga berbasa-basi karena terpaksa, sebab nilai-nilai dalam masyarakat menganggap berdiam-diaman dengan orang di hadapan kita sebagai perbuatan buruk dan anti-sosial. Kita harus memaklumi itu.

Lalu, kenapa harus cuaca? Mungkin karena cuaca adalah topik yang paling netral dan paling mudah. Siapa pun bisa mengomentari cuaca tanpa harus menjadi ahli meteorologi dan geofisika. Selain itu, cuaca adalah topik yang paling mudah untuk kita setujui bersama. Kita jarang sekali melihat orang berdebat, tersinggung, apalagi berkelahi karena membicarakan cuaca.

Bayangkan kalau orang-orang menggunakan topik tentang politik, agama, atau moralitas saat membuka obrolan dengan orang yang baru dikenalnya. Mungkin obralan yang timbul akan jauh lebih seru, intelektual, dan variatif, tapi tidak semua orang ingin berdebat dan memeras otak setiap saat, kan?

Basa-basi tentang cuaca juga kadang terasa ironis. Kita membicarakan cuaca seolah ini adalah masalah sepele yang tidak membutuhkan pemikiran serius, tapi di sisi lain kita juga tahu bahwa masalah cuaca dan kondisi alam secara umum  menyangkut kelangsungan hidup kita semua. Cuaca yang kering dan panas telah menimbulkan kebakaran di mana-mana, termasuk kebakaran hutan (atau pembakaran hutan?) yang asapnya sulit dikendalikan. Kekeringan melanda, orang-orang sampai harus melakukan sholat istisqo dan membuat hujan buatan. Pemanasan global, gundulnya hutan, kepunahan hewan; banyak yang percaya bahwa kehancuran bumi tinggal menunggu waktu saja.

Mungkinkah lain kali kita harus lebih serius ketika membicarakan tentang cuaca dan kondisi alam? Mungkinkah seharusnya kita berwajah pucat dan berteriak histeris ketika mengabarkan kondisi alam yang buruk? Entahlah. Saya tidak tahu apakah kecenderungan kita untuk menjadikan topik cuaca sebagai basa-basi berhubungan dengan cara pandang kita terhadap kelestarian alam.

Di luar jendela kamar saya saat ini, ada awan mendung yang terbawa angin. Gerimis sempat turun selama beberapa menit, tapi hujan deras sepertinya akan terjadi di tempat lain. Mungkin tak lama lagi musim penghujan akan tiba, dan kita bisa mengganti basa-basi cuaca kita, dari “hari ini panas banget” menjadi “hujannya deras banget”, atau “banjirnya dalem banget”. Mudah-mudahan tulisan basa-basi singkat ini bisa menjadi pembuka untuk memperlancar tulisan-tulisan berikutnya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).

  • Fariz Rusli

    Permisi Pak Rivai, saya hanyalah seorang tamu di blog anda. Menurut saya, sungguh disayangkan kalau tulisan anda berhenti begitu saja, karena saya juga punya blog kepenulisan yang mirip-mirip pula dengan blog anda dan saya juga menikmati cerpen anda. Saya akan setia menunggu cerpen anda yang berikutnya.

    Salam

    • someonefromthesky

      Terima kasih. Saya masih tetap menulis di sini, cuma memang belum ssesering dulu 🙂