#5BukuDalamHidupku | Kerang Biru4 min read

Buku terakhir yang saya pilih untuk #5BukuDalamHidupku ini lagi-lagi adalah buku yang saya tulis sendiri. Bila buku ketiga yang saya pilih adalah sebuah novel, kali ini buku yang akan saya ceritakan adalah sebuah buku kumpulan puisi.

Kelas satu SMA, saya benar-benar duduk di pojok dunia. Ruang kelas saya berada di pojok sekolah (bersebelahan dengan gudang kecil yang jarang dipakai) dan saya duduk di kursi paling pojok di baris paling belakang yang agak gelap. Menurut sebuah penelitian, suasana remang-remang memang dapat menyuburkan kreativitas. Namun sepertinya bukan suasana remang-remang itulah yang mendorong saya menulis banyak puisi, melainkan seorang siswi di kelas sebelah yang kadang melintas dan selalu saya pandangi dari pintu kelas yang terbuka.

Pada masa ketika ponsel hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim SMS, saya hampir selalu membawa buku tulis dan pulpen di dalam tas. Biasanya buku yang saya gunakan adalah buku hard-cover yang dibeli di toko buku untuk membedakannya dengan buku tulis sekolah biasa. Buku itu saya gunakan untuk menulis puisi-puisi atau curahan hati pribadi secara tidak rutin. Maklum, saat itu belum ada Twitter untuk berkicau. Salah satu buku yang paling awet saya gunakan adalah sebuah buku dengan hard-cover warna biru dan bergambar kerang. Saya namakan buku itu “Kerang Biru”.

Pada jam istirahat pertama, saya akan duduk dekat tiang yang ada di depan kelas sambil mengunyah jajanan yang dibeli di koperasi. Sesekali melirik ke sebelah kanan, menunggu perempuan itu lewat. Biasanya ia akan lewat bersama dua orang temannya, kadang menoleh sepintas dan menyapa, tapi saya tak pernah banyak menanggapi. Saya selalu lebih pandai berkomunikasi dengannya lewat SMS. Terutama sejak waktu itu, sejak ia meminta saya membuat tulisan di binder-nya (waktu itu masih cukup ngetren membuat tulisan dan komentar di kertas-kertas binder) dan saya menuliskan beberapa bait puisi tentang bintang. Entah apa yang membuat saya melakukannya, padahal waktu itu saya belum begitu akrab dengannya. 

Di sisa waktu istirahat, saat guru tidak hadir, atau setelah sekolah berakhir, saya akan menuliskan puisi di buku Kerang Biru itu. Memang bukan puisi yang bagus, bahkan sebagian besar ditulis secara spontan. Referensi saya mengenai puisi hanya berasal dari satu bundel fotokopian kumpulan puisi yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia. Meski tidak paham teori-teori mengenai sastra atau puisi, tetapi saya cukup rajin menulis puisi di buku Kerang Biru itu hingga semakin lama semakin penuh. Suatu ketika, saya “diinterogasi” oleh beberapa orang siswi saat berada di perpustakaan. Mereka membaca tulisan-tulisan saya di Kerang Biru dan mereka ingin tahu siapa perempuan yang saya maksud dalam tulisan-tulisan itu. Sebelum ada yang salah paham, interogasi itu terjadi bukan karena saya adalah siswa populer, tapi karena di antara semua siswa lainnya, saya dianggap sebagai “orang yang paling tidak mungkin jatuh cinta”.

Saya tidak bisa menjelaskan puisi-puisi seperti apa saja yang ada di dalam buku itu, tetapi bisa dibilang semuanya merupakan analogi perasaan saya terhadap siswi di kelas sebelah. Selain kelas kami bersebelahan, kami juga sama-sama menjadi anggota Palang Merah Remaja (saya memilih ekstrakurikuler itu bukan karena jiwa kemanusiaan, tapi hanya agar bisa berteduh saat upacara bendera). Tahun berikutnya, kelas kami menjadi berseberangan. Buku itu semakin penuh, bukan hanya oleh perasaan yang tak tersampaikan, tapi juga oleh kecemburuan ketika melihat ia bersama pacarnya yang kadang-kadang datang ke sekolah. Ketika itu ada seorang teman yang menjadi tempat curhat saya mengenai masalah ini. Ia juga membaca buku Kerang Biru itu, bahkan beberapa tahun kemudian ia sempat meminjam buku itu dan hingga kini tak pernah kembali lagi (dan saya sudah kehilangan kontaknya sejak lama).

Memang buku itu sekarang sudah tak ada di tangan saya, tapi kenangannya tak akan bisa lepas. Terutama ketika pada suatu siang saya mendatangi ruang kelas siswi itu sambil membawa buku Kerang Biru. Ketika itu ruang kelasnya sudah kosong, hanya ada beberapa siswa yang berlalu-lalang di terasnya. Ia duduk di hadapan saya, sementara saya meminta waktu untuk membacakan beberapa bait puisi yang saya tulis di buku itu. Saya membacanya dengan suara yang agak gemetar, sementara ia menyimak dengan mata berkaca-kaca. Saat bait terakhir selesai saya bacakan, kami resmi “pacaran”. Setidaknya selama enam bulan ke depan.

Mengapa buku itu menjadi buku yang “mengubah” hidup saya? Menulis puisi dan curhat di buku catatan pribadi bukanlah hal yang sangat unik. Saya yakin, pada usia-usia itu hampir semua orang senang membuat puisi galau tentang kisah asmaranya, entah di buku tulis, diary, atau social media seperti sekarang. Namun saya agak beruntung karena menuliskannya di buku tulis, bukan di social media, sebab dengan begitu tulisan-tulisan saya tetap menjadi sesuatu yang intim dan pribadi–meski pada akhirnya hilang. Tanpa buku itu, saya mungkin tidak tahu apa yang harus saya ucapkan di depannya untuk mengungkapkan perasaan. Tanpa buku itu, hidup saya yang sekarang pasti akan sangat jauh berbeda. Begitu pula dengan masa depan saya.

 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).