#5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung5 min read

Sebenarnya saya merasa sangat bimbang untuk menentukan buku keempat ini. Ada banyak kandidat, mulai dari Perang (novel Putu Wijaya yang pernah saya baca saat SMA), Kumpulan Budak Setan (buku horor lokal favorit saya), hingga Bumi Manusia (ini pasti pilihan yang sangat mainstream). Namun saya kembali teringat bahwa buku yang saya pilih haruslah buku yang paling berpengaruh, bukan yang paling bagus atau keren. Oleh karena itu pada akhirnya saya memilih Bag of Bones, novel Stephen King pertama yang saya baca. Dengan demikian, saya terpaksa melanggar perkataan saya kepada Irwan Bajang bahwa empat buku pilihan saya setelah Goosebumps bukanlah bergenre horor. Ups!

Meski senang membaca Goosebumps ketika kecil, tapi saya tidak begitu sering menulis horor ataupun membaca cerita horor lainnya. Seperti yang diceritakan pada tulisan sebelumnya, novel pertama yang saya tulis ketika remaja adalah novel galau. Pada saat SMA (setelah menyelesaikan Peri Sayap Kupu-Kupu) saya lebih sering menulis puisi daripada cerpen. Namun ketika saya pertama kali memasang tulisan horor di Kemudian.com pada tahun 2007, seorang anggota mengomentari bahwa untuk melanjutkan cerita yang saya tulis, saya bisa mengambil inspirasi dari karya-karya Stephen King. Menurutnya tulisan saya itu memiliki kesamaan dengan tulisan-tulisan Stephen King.

Terus terang, waktu itu saya memang sangat buta terhadap dunia kepenulisan. Saya bahkan tidak tahu siapa itu Stephen King, meski pernah mendengar namanya sesekali (mungkin ingatan saya agak tercampur dengan nama Stephen Hawking yang pernah saya baca di ensiklopedia). Setelah melakukan sedikit googling, saya menyadari bahwa King merupakan penulis horor yang sangat populer di Amerika sana. Beberapa film dan buku yang pernah saya baca sebelumnya juga tanpa saya sadari berasal dari karya-karyanya, termasuk film Shawshank Redemption.

Merasa penasaran, beberapa hari kemudian saya pun mencari novelnya di toko buku. Meskipun ia begitu terkenal, ternyata agak sulit menemukan bukunya di toko buku. Setelah beberapa kali berpindah toko, akhirnya saya menemukan bukunya yang kebetulan memang baru terbit. Buku tebal itu berjudul Bag of Bones atau diterjemahkan menjadi Sekantong Tulang.

Saya belum terbiasa dengan novel yang bertempo lambat dan memiliki deskripsi yang mendetail sehingga saya membaca novel itu dengan sangat lama dan penuh perjuangan. Saya membawa buku itu ke mana-mana, ke kampus untuk dibaca saat luang atau ke warung untuk dibaca sambil menunggu rebusan mi instan, tapi saya tetap tidak bisa sabar menunggu klimaks cerita novel itu. Menelusuri narasi dan deskripsi tentang Mike Noonan yang jalan-jalan sore naik mobil, menyapa tetangga, membahas obrolan-obrolan yang sekilas terasa tidak penting rasanya sangat melelahkan. Mengapa cerita hantu saja begitu berbelit-belit? Apakah karena saya tidak merasa akrab dengan kehidupan orang-orang Amerika yang diceritakan King, ataukah karena kualitas terjemahannya memang kurang bagus? Namun karena penasaran dan juga karena takut mbazir, akhirnya saya memaksakan diri membaca buku itu hingga habis. Pada sepertiga bagian akhir novel itu, saya baru bisa merasakan ketegangan. Ketika novel itu sudah selesai saya baca, saya menyadari bahwa meski tidak benar-benar menyukai novel itu, ternyata Bag of Bones sudah memberikan pengaruh lebih besar dari yang saya sadari.

Dalam sebuah resensi yang saya tulis beberapa bulan kemudian di Goodreads, saya menulis komentar berikut.

“Stephen King berusaha membangun cerita dalam novel ini secara pelan namun pasti. Pengenalan tokoh disampaikan secara rinci dan mendalam, meskipun semuanya diceritakan melalui kacamata subjektif sang tokoh utama. Begitu pula dengan pengenalan latar tempat dan waktu yang mengandung deskripsi kuat. Walaupun gaya penceritaan ini terkesan lambat dan agak membosankan, namun pada akhirnya kita justru akan merasa akrab dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini, bahkan tidak jarang melibatkan emosi kita ketika suatu hal terjadi pada tokoh-tokoh tersebut. Nuansa thriller dalam novel ini juga dibangun secara perlahan, namun lama-kelamaan semakin meningkat dan pada akhirnya mencapai klimaks.

“Kengerian dalam Sara Laughs dimulai ketika magnet-magnet di pintu lemari es Mike bergerak dengan sendirinya dan membentuk pesan misterius, lalu suara-suara aneh dari rumah yang seolah hidup, sampai kepada adegan menegangkan penuh aksi di bagian akhir cerita. Adegan-adegan tersebut cukup berkesan sehingga sulit dilupakan. Hubungan emosional antara Mike dan Mattie juga terbangun dengan baik. Dari kerinduan Mike terhadap sosok perempuan sampai kepada dorongan-dorongan seksualnya terhadap Mattie diceritakan secara realistis. Begitu pula persaingan Mike dengan Max Devore, mertua Mattie yang kaya raya dan ingin mengambil alih Kyra. Pada pertengahan bagian cerita, kita sebagian besar misteri baru mulai terkuak, bahwa semua gangguan yang Mike alami selama ini ternyata tidak hanya mengenai dirinya sendiri, tapi menyangkut masa lalu yang kelam dari Sara Laughs dan penduduk sekitar. 

“King pernah menuliskan dalam memoarnya pada buku On Writing, bahwa ia terbiasa untuk tidak membuat rancangan plot (kerangka karangan) dalam menulis cerita. Ia hanya menyusun tokoh-tokoh dan suasana yang akhirnya akan bergerak dan membentuk cerita sendiri. Teknik ini memungkinkan ia untuk membuat cerita yang lebih mengalir dan tidak kaku. Bag of Bones adalah salah satu novel yang ia tulis menggunakan teknik tersebut. Pembaca bisa merasakan kesan mengalir dari adegan-adegan pada novel ini dalam arah yang sulit ditebak, sehingga seringkali membuat kita bertanya-tanya hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Kekurangannya adalah, arah cerita yang terlalu mengalir seringkali membuat kita merasa bahwa penulisnya menceritakan hal-hal yang tidak terlalu penting, seperti tokoh-tokoh sampingan yang dideskripsikan terlalu rinci. Memang, pada kenyataannya dalam novel ini King beberapa kali menghadirkan tokoh-tokoh dari novelnya yang lain walau hanya sebagai cameo.” (sic)

Bila saya membaca kembali novel itu sekarang, sepertinya saya akan bisa lebih menikmatinya. Saya menduga bahwa kesulitan saya saat membaca novel itu dulu lebih disebabkan karena lemahnya konsentrasi, kurangnya kesabaran, dan perhatian yang mudah teralihkan. Selain kesadaran itu, hal lain yang paling berbekas dari novel itu adalah gaya tulisan atau “suara” tulisannya (misalnya kebiasaan memberikan keterangan tambahan di dalam kurung seperti ini–atau menggunakan tanda pisah). Saya agak terkejut ketika menyadari betapa seringnya saya menggunakan tanda kurung dan tanda pisah untuk menyisipkan informasi tambahan dalam kalimat majemuk, meskipun tidak selalu yakin apakah penggunaannya tepat menurut kaidah bahasa. Selain penggunaan tanda kurung, gaya humor dalam Bag of Bones yang witty dan agak sinis juga terbawa hingga saat ini. Novel ini memang tidak mengubah hidup saya secara drastis, tapi secara pelan dan pasti telah memengaruhi cara saya menulis.

PS: Sepertinya saya benar-benar harus membaca ulang Bag of Bones.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).