Selfi Yang Bodoh5 min read

Hari ini adalah hari pembagian rapor di kelasku. Kami duduk di ruang kelas sambil menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Beberapa murid tampak mencorat-coret bukunya dengan gelisah, sementara sebagian yang lain ada pula yang tampak tidak peduli. Aku sendiri, aku tak begitu peduli dengan nilai. Bagiku nilai adalah sebuah opini, aku tak harus selalu setuju dengan opini wali kelasku, bukan? Ketidakpedulianku ini adalah gara- gara Selfi, teman sekelas kami yang baru saja pergi meninggalkan kelas ini.

Baiklah, biar kuceritakan tentang Selfi. Selfi adalah seorang gadis manis yang duduk di sudut kelasku, kelas 3 IPA 1, SMA favorit se-kabupaten. Kalau dilihat dari penampilan luarnya, tak ada yang salah dengan dirinya. Ia nyaris sempurna. Pakaiannya sopan, ia juga tidak bergaya yang aneh- aneh. Tidak seperti anak- anak perempuan yang duduk di depanku itu, memakai baju seragam kekecilan dan rok kependekan karena terlalu sering menonton sinetron remaja murahan dan membaca majalah murahan juga. Sungguh, Selfi tidak seperti itu. Sikapnya juga ramah dan bergaul dengan siapa saja. Setahuku dia berasal dari keluarga yang biasa- biasa saja, ayahnya adalah seorang pegawai kantoran yang menyewa rumah kontrakan di sebuah perumahan.

Namun dibalik semua itu, ada satu kelemahan Selfi, yaitu pelajaran. Ia selalu menjadi bulan-bulanan guru fisika kami, Pak Cokro. Pak Cokro adalah guru yang terkenal galak, menyeramkan, atau lebih tepatnya sakit jiwa. Kenapa aku menyebutnya sakit jiwa? Karena ia selalu menghukum murid-murid yang mendapat nilai jelek saat ujian. Ia suka menghina murid-murid yang tidak mampu mengerjakan soal yang ia buat di papan tulis, bahkan ia tak segan untuk memakai kekerasan fisik, tak peduli murid laki- laki ataupun perempuan. Meskipun tindakan fisik yang ia buat cuma sekedar menampar atau mencubit, tapi bagiku ia memang terlihat sakit. Dan berita buruknya, pada saat itu dia adalah wali kelas kami.

Hari itu adalah hari pembagian rapor, hampir mirip seperti sekarang ini. Bagi kami semua, hari itu adalah judgement day. Dan kalian tahu apa? Guru sakit itu malah membacakan urutan peringkat dari peringkat pertama sampai peringkat terakhir. Selfi adalah peringkat ke tiga puluh sembilan dari tiga puluh sembilan. Semua murid memandangi Selfi saat melihatnya menangis. Ada yang tampak kasihan, ada pula yang tampak meremehkan. Pak Cokro pun tak lupa ikut menyindir-nyindir Selfi dan mengatainya sebagai murid paling terbelakang di kelas kami. Bahkan ia sempat berkelakar agar Selfi dipindahkan ke SLB saja.

Sehari kemudian, orangtua Selfi datang ke sekolah untuk berkonsultasi dengan Pak Cokro perihal prestasi anaknya yang buruk itu. Hasilnya, Pak Cokro menyarankan orangtua Selfi untuk mengawasi anaknya saat belajar di rumah, dan meminta untuk memasukkan anaknya ke bimbingan belajar secara intensif agar nilai-nilai Selfi bisa menjadi lebih baik. Semenjak saat itulah, Selfi menjadi gadis pemurung.

Pada saat class-meeting, Selfi tidak datang ke sekolah. Kabarnya orang tua Selfi setuju untuk mengadakan bimbingan belajar khusus mulai hari ini, dan entah sampai kapan. Mimpi buruknya, pembimbing yang setiap hari datang ke rumah selfi untuk memberi less privat itu tiada lain adalah Pak Cokro. Selfi pasti sangat menderita karena menjadi korban dari obsesi orangtuanya dan pandangan sempit warga sekolah ini. Pernah suatu ketika, Selfi bercerita padaku bahwa di RT-nya ada seorang murid dari sekolah lain yang sangat pintar dan selalu berprestasi. Ibu dari Si Anak Pintar itu selalu saja membanggakan dan menyombongkan prestasi anaknya kepada orangtua Selfi. Oleh karena itulah, orang tua Selfi merasa kesal dan ingin agar Selfi lebih berprestasi dari si anak itu, sehingga mereka bisa membalas kesombongan tetangganya. Satu hal yang cukup radikal muncul di kepalaku, kalau seandainya saja tak ada tekanan dari kedua orangtuanya, Selfi mungkin saja sudah berhenti sekolah. Lagipula untuk apa pergi ke sekolah, kalau setiap hari ia selalu menjadi bahan caci-maki dan pandangan remeh teman-temannya? Mungkin ia memang dilahirkan dengan bakat yang berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah?

Tapi keinginanku untuk menyuruhnya berhenti sekolah itu sudah terlambat. Menjelang hari terakhir class-meeting, Selfi dikabarkan kabur dari rumah. Orang tuanya segera mencari Selfi ke rumah teman-teman sekelasnya, namun tak ada hasil. Mereka menduga Selfi kabur karena stres dipaksa belajar. Pada saat itu, barulah mereka merasa khawatir dengan keadaan anak mereka satu-satunya itu. Penyesalan mereka semakin mendalam ketika esok paginya, kami sekelas menemukan Selfi sudah tergantung lemas di tengah kelas bersama dengan balon- balon dan dekorasi yang menghiasi kelas kami saat menyambut class-meeting. Selfi sudah gantung diri.

Orang-orang ramai berseru kalau Selfi bunuh diri. Tapi bagiku ini bukan kasus bunuh diri, melainkan kasus pembunuhan! Ini adalah kasus pembunuhan karakter yang sangat parah yang dilakukan oleh orangtuanya, oleh Pak Cokro, oleh sekolah, dan bahkan oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Mulai saat itulah, aku sudah tidak mau peduli lagi dengan nilai yang akan kuterima saat pembagian rapor. Aku tidak mau tahu lagi soal peringkat kelas, ujian SPMB, atau apapun yang sejenisnya. Aku tidak ingin lagi menjadi juara kelas, karena juara kelaslah yang telah membunuh Selfi.

Kini, aku menerima rapor yang diberikan oleh wali kelas dengan sebuah senyuman getir saat aku melihat bahwa akulah yang telah menggantikan posisi Selfi sebagai peringkat terbelakang. Dan aku merasa puas, karena sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan Selfi waktu itu. Aku bisa merasakan tatapan dingin mereka, merasakan tatapan iba mereka, dan tentunya sindiran ketus dari si wali kelas. Aku tidak peduli, karena ini adalah bukti bahwa aku bukanlah salah satu dari orang-orang yang telah membunuh Selfi.

Seminggu kemudian, Kepala Sekolah membuka acara penerimaan siswa baru. Aku penasaran dan ingin tahu tindakan apa yang akan ia ambil agar kasus Selfi tidak terulang lagi. Aku pikir ia akan mengubah paradigma belajar atau apa, tapi ia malah berkata, “Demi mencegah terjadinya kasus serupa pada tahun-tahun ajaran mendatang, kami memutuskan untuk menaikkan passing grade penerimaan siswa baru. Dengan begitu, diharapkan siswa-siswi baru yang akan masuk ke sekolah ini adalah siswa-siswi terpilih dengan kemampuan intelejensi dan ketahanan mental yang mencukupi untuk belajar di sekolah favorit ini. Dengan begitu, murid-murid dapat berkompetisi dengan sehat dan seimbang.”

Kasihan sekali Selfi, meskipun sudah mati ia masih saja dianggap sebagai anak bodoh.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).